Selasa, 29 Desember 2015

Tumbuhkan Kembali Adat Istiadat Dramaga Gelar Pertunjukan Seni Sunda dan Pencak Silat


DRAMAGA – Berangkat dari mulai lunturnya adat istiadat, tata krama dan sopan santun dalam bersikap, berbahasa, berbicara sehari-hari, baik terhadap orang tua, tetangga, teman, maupun kebiasaan kebiasaan budaya rendah hati, Paguyuban Dramaga bekerja sama dengan organisasi kepemudaan yang berdomisili di wilayah Kecamatan Dramaga, menggelar pertunjukan Seni budaya adat istiadat Sunda serta pencak Silat yang berlokasi di area halaman kantor kecamatan setempat, Senin (29/12).
Bambang Somantri, Ketua Pelaksana mengatakan, pagelaran seni Sunda dan Pencak silat yang diprakarsai oleh semua anggota paguyubannya tersebut, sekaligus dalam rangka menyambut tutup tahun guna mengajak agar para pemuda di Dramaga tidak melulu menyambut tahun baru dengan cara berpesta pora.
"Pelaksanaan ini merupakan se buah ajakan yang positif, dimana seluruh remaja dan pemuda dipersilahkan mempertontonkan kebolehannya dalam penguasaan seni budaya Sunda. Termasuk menangkal agar masyarakat dan pemuda tidak terus menerus menyambut pergantian tahun dengan cara hura hura," kata Bambang kepada PAKAR.
Menurutnya, dalam pagelaran tersebut juga disisipkan bentuk festival, diantaranya festival tari tarian seperti Jaipong, Seni Karinding, Talempung, serta pertunjukan Pencak Silat yang di Ikuti oleh 15 perguruan Silat se-Kecamatan Dramaga.
"Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari empat paguyuban Sunda, ormas kepemudaan, para tokoh budayawan seperti Mama Arif Hidayat, Karyawan Faturahman (mantan Wabub), Dadang HP, serta seluruh tokoh masyarakat maupun Muspika Dramaga. Pagelaran ini merupakan pertunjukan pertama yang kami gelar," tukasnya.
Pengamat budaya dan sejarah sunda Karyawan Faturahman (mantan Wakil Bupati Bogor), menambahkan, pagelaran Seni sunda yang menghadirkan pertunjukan tari tarian dan pencak silat yang dominan diikuti kalangan anak anak dan remaja, menurutnya sangat tepat sasaran.
"Mengingat para generasi barulah dalam hal ini mereka kaum anak anak yang perlu lebih diutamakan pengenalan adat istiadat sunda yang sudah banyak dilupakan oleh generasi pendahulunya,” papar KF.
KF juga menjelaskan, semua bentuk kebiasaan adat istiadat sunda yang menjungjung tinggi budi pekerti harus mulai dijejali kepada Anak anak, diantaranya mereka harus tau mana budaya isin (malu), budaya Pamali (tidak baik) maupun budaya hormat kepada orang tua, yang saat ini semua kebudayaan tersebut sudah bergeser jauh. 
“Sudah waktunya kita selamatkan bersama sama demi bangsa yang agung ini, Bangsa Sunda," pungkasnya.=JEF

Luar Biasa, Ibu Ibu Kampung Ciangsana Desa Cibeber 2 Bangun jalan

LEUWILIANG - Puluhan Ibu rumah tangga (IRT), warga Kampung Angsana 2, RT 4/RW 7, Desa Cibeber 2, Kecamatan Leuwiliang, sejak Jumat (18/12) lalu, turun tangan langsung ikut berjibaku membangun jalan lingkungan di kampung tempat tinggal mereka sejarak kurang lebih 900 meter. 
Dibantu suami dan anak mereka, ke-45 ibu-ibu ini terlihat begitu bersemangat bergotong-royong mengangkut bahan material seperti pasir, batu split, semen sebagai bentuk apresiasi dan dukungan yang mereka berikan meski melalui tenaga. Apalagi mengingat kampung tinggal mereka jarang tersentuh pembangunan, mau tak mau semua wargaa serentak siap singsingan lengan mensukseskan pembangunan.
Epon (33) ibu rumah tangga yang terlibat gotong royong memanggul material Pasir dan batu split untuk kebutuhan pembangunan jalan lingkungan dikampungnya itu mengatakan, keterlibatan tenaga mereka tersebut, agar pengecoran jalan lingkungannya bisa cepat selesai.
“Cape ya cape sih, tapi kalau para ibu ibunya gak turun tangan ikut kerjabakti, pasti 
Pengecoran jalan dilingkungan tempat tinggal kami ini bisa lama dong selesainya,” kata Epon, kepada PAKAR, Senin (21/12).
Epon mewakili puluhan ibu ibu warga Kampung Angsana 2, mengaku senang kini jalan lingkungan menuju kampung tinggal mereka sudah diperbaiki, terlebih tidak licin berlumpur pada saat musim hujang Desember ini.
“Lama juga sih, hampir sepuluh tahun jalan lingkungan di kampung kami ini tidak pernah diperbaiki apalagi tersentuh pembangunan dari pemerintah. Nah setelah ini selesai, selanjutnya kami berharap rumah rumah warga yang tidak layak huni juga bisa mendapat bantuan saluran progam RTLH,” harapnya.
Ketua RT 4/RW 7 Asman, menjelaskan, kegiatan kerja bakti gotong-royong yang melibatkan para ibu-ibu diwilayahnya, memang sering berlangsung. “Mulai dari gotong royong membersihkan rumput dan semak yang sudah menutupi badan jalan lingkungan, ikut membantu memasak untuk tetangga yang sedang hajatan, kemudian membetulkan saluran air pancuran untuk kebutuhan mandi dan cuci, semua ibu ibu dikampung kami memang pada kompak,” kata Asman.
Lebih lanjut dibeberkan Asman, mengingat target pekerjaan jalan lingkungannya harus dua minggu ini selesai, bukan saja ibu-ibu dan suaminya saja yang disertakan berggotong-royong. “Termasuk semua anak anak warga turut berjibaku. Nah untuk mengatur supaya para ibu ibunya tidak kelelahan, kami buatkan jadwal, dimana setiap hari jumlah ibu ibunya sebanyak 6 orang ditambah tenaga suami dan anak anaknya,” bebernya.
Dengan terealisasinya pembangunan jalan lingkungan tersebut, sambung Asman, warga merasa bersyukur, sebab sudah bertahun tahun diajukan tidak pernah terlaksana. “Makanya semua warga siap berswadaya, baik tenaga maupun lainnya sejak hari jumat lalu. Sementara bahan materialnya langsung dikirim oleh pemerintah Desa. Setelah pekerjaan ini selesai, kami berharap ada 10 unit rumah warga yang tidak layak huni, sekiranya bisa mendapat bantuan RTLH ditahun 2016 mendatang dari Pemkab Bogor serta rehab Mushola,” tandasnya.=JEF

Senin, 28 Desember 2015

Hebat, Ibu-Ibu Dusun Angsana 2 Bangun Jalan



LEUWILIANG - Puluhan Ibu rumah tangga (IRT), warga Kampung Angsana 2, RT 4/RW 7, Desa Cibeber 2, Kecamatan Leuwiliang, sejak Jumat (18/12) lalu, turun tangan langsung ikut berjibaku membangun jalan lingkungan di kampung tempat tinggal mereka sejarak kurang lebih 900 meter.
Dibantu suami dan anak mereka, ke-45 ibu-ibu ini terlihat begitu bersemangat bergotong-royong mengangkut bahan material seperti pasir, batu split, semen sebagai bentuk apresiasi dan dukungan yang mereka berikan meski melalui tenaga. Apalagi mengingat kampung tinggal mereka jarang tersentuh pembangunan, mau tak mau semua wargaa serentak siap singsingan lengan mensukseskan pembangunan.
Epon (33) ibu rumah tangga yang terlibat gotong royong memanggul material Pasir dan batu split untuk kebutuhan pembangunan jalan lingkungan dikampungnya itu mengatakan, keterlibatan tenaga mereka tersebut, agar pengecoran jalan lingkungannya bisa cepat selesai.
“Cape ya cape sih, tapi kalau para ibu ibunya gak turun tangan ikut kerjabakti, pasti
Pengecoran jalan dilingkungan tempat tinggal kami ini bisa lama dong selesainya,” kata Epon, kepada PAKAR, Senin (21/12).
Epon mewakili puluhan ibu ibu warga Kampung Angsana 2, mengaku senang kini jalan lingkungan menuju kampung tinggal mereka sudah diperbaiki, terlebih tidak licin berlumpur pada saat musim hujang Desember ini.
“Lama juga sih, hampir sepuluh tahun jalan lingkungan di kampung kami ini tidak pernah diperbaiki apalagi tersentuh pembangunan dari pemerintah. Nah setelah ini selesai, selanjutnya kami berharap rumah rumah warga yang tidak layak huni juga bisa mendapat bantuan saluran progam RTLH,” harapnya.
Ketua RT 4/RW 7 Asman, menjelaskan, kegiatan kerja bakti gotong-royong yang melibatkan para ibu-ibu diwilayahnya, memang sering berlangsung. “Mulai dari gotong royong membersihkan rumput dan semak yang sudah menutupi badan jalan lingkungan, ikut membantu memasak untuk tetangga yang sedang hajatan, kemudian membetulkan saluran air pancuran untuk kebutuhan mandi dan cuci, semua ibu ibu dikampung kami memang pada kompak,” kata Asman.
Lebih lanjut dibeberkan Asman, mengingat target pekerjaan jalan lingkungannya harus dua minggu ini selesai, bukan saja ibu-ibu dan suaminya saja yang disertakan berggotong-royong. “Termasuk semua anak anak warga turut berjibaku. Nah untuk mengatur supaya para ibu ibunya tidak kelelahan, kami buatkan jadwal, dimana setiap hari jumlah ibu ibunya sebanyak 6 orang ditambah tenaga suami dan anak anaknya,” bebernya.
Dengan terealisasinya pembangunan jalan lingkungan tersebut, sambung Asman, warga merasa bersyukur, sebab sudah bertahun tahun diajukan tidak pernah terlaksana. “Makanya semua warga siap berswadaya, baik tenaga maupun lainnya sejak hari jumat lalu. Sementara bahan materialnya langsung dikirim oleh pemerintah Desa. Setelah pekerjaan ini selesai, kami berharap ada 10 unit rumah warga yang tidak layak huni, sekiranya bisa mendapat bantuan RTLH ditahun 2016 mendatang dari Pemkab Bogor serta rehab Mushola,” tandasnya.=JEF

Temuan BPK Tahun 2014 Inspektorat Terus Pantau SKPD

CIBINONG – Munculnya sejumlah temuan dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI), untuk beberapa Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD), di lingkungan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bogor tahun 2014, rupanya masih menjadi program kerja utama Inspektorat.
Tak hanya melakukan sejumlah langkah evaluasi, Inspektorat juga intens monitoring sebagai tindak lanjut pemuktahiran. Hal itu dikatakan Kepala Inspektorat Didi Kurnia kepada PAKAR, Senin (28/12).
“Inspektorat masih memonitoring pemutahiran atas temuan BPK RI tentang laporan keuangan tahun 2014 di dinas-dinas,” ucap Didi, usai menghadiri Rapat Paripurna, di Gedung Serbaguna II Sekertarian Daerah (Setda) Kabupaten Bogor, Cibinong.
Ia menjelaskan, salah satu pantauan yang menjadi fokus adalah penggunaan anggaran tahun 2014 lalu. Karena dalam temuan ini, BPK dipastikan akan kembali lagi ke Kabupaten Bogor, untuk mempertanyakan sudah sampai dimana tindaklanjut temuan tersebut.
“BPK tetap akan datang untuk mempertanyakan tentang temuan atas dinas-dinas, sudah sejauh mana perkembangan dari temuan mereka. Karena itu, kita terus lakukan monitoring,” terangnya.
Soal pengembalian anggaran seperti temuan BPK untuk beberapa dinas, lanjut Didi, seluruhnya itu harus menjadi tanggungjawab dinas-dinas terkait sebagai Pemegang Kuasa Anggaran (KPA).
Didi juga memastikan, sudah meminta para kepala dinas untuk kembali melaporkan kinerjanya selama tahun anggaran 2014. Hal ini sesuai dengan surat perintah Bupati Bogor, menyusul datangnya surat ‘teguran’ dari BPK terkait temuan tersebut. “Kita terus minta progres dari masing-masing KPA. Karena temuan tersebut harus tuntas,”singkatnya.
Sementara itu, Bupati Bogor Nurhayanti menambahkan, tindak lanjut soal temuan BPK masih terus berjalan dan bahkan sudah ada yang ditindaklanjuti. Namun ia juga mengaku, masih ada beberapa yang belum, sebab temuannya ada di administrasi, bahkan temuan yang harus mengembalikan kepada Kas Daerah (Kasda).
“Kedua temuan tersebut harus diselesaikan segera, namun secara bertahap, dan kalau memang temuan itu ada yang belum diselesaikan, kita terus mengkonfirmasi hal ini kepada BPK,”tandasnya.=ADI
 

Laporan Kinerja RSUD Leuwiliang Songsong Perubahan Mutu Pelayanan

CIBINONG – Guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, pihak manajemen RSUD Leuwiliang terus melakukan sejumlah pembenahan. Tak tanggung-tanggung, dalam rangka persiapan Akreditasi Rumah Sakit (RS) pada tahun 2016, RSUD Leuwiliang siap menyongsong perubahan dengan menjadikan momen perubahan yang dilakukan pada tahun 2015 sebagai Tahun Perubahan.
Dalam perubahan ini, RSUD Leuwiliang juga telah menyusun sejumlah program yang didasari pada hasil evaluasi kinerja tahun sebelumnya melalui pemetaan permasalahan dan solusi serta melakukan pengembangan capacity building di sisi internal hingga peningkatakan layanan sistem informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) yang dilakukan dalam rangka perbaikan kualitas mutu pelayanan.

Beberapa langkah dan program pun dilakukan RSUD Leuwiliang demi meuwujudkan perubahan dalam upaya perwujudan misi Kabupaten Bogor menjadi Kabupaten Termaju di Indonesia. diantaranya :
- Program Gelispati
A. Dasar Permasalahan
Berdasarkan identifikasi permasalahan diatas maka untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan Rumah Sakit dan kepuasan pemberian pelayanan kepada pasien khususnya memberikan perasaan aman sekaligus menyenangkan sehingga semua pasien yang datang akan lebih cepat menyesuaikan diri terhadap proses perawatan / penyembuhan dipandang perlu adanya suatu terobosan inovasi/ perubahan berupa “ Pelaksanaan Pendekatan Pelayanan Tanpa Stress Melalui GELISPATI(Gerakan Lima S : Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun Pakai Hati) Oleh Perawat Di RSUD Leuwiliang”.
B. TUJUAN
Tujuan Jangka Pendek dari program ini adalah terselenggaranya Pelaksanaan Pendekatan Pelayanan Tanpa Stress Melalui GELISPATI (Gerakan Lima S”: Senyum, Sapa, Salam, Sopan Dan Santun Pakai Hati ) Oleh Perawat di RSUD Leuwiliang
Sedangkan untuk Tujuan Jangka Menengah, terselenggaranya Pelaksanaan Pendekatan Pelayanan Tanpa Stress Melalui GELISPATI (Gerakan Lima S”: Senyum, Sapa, Salam, Sopan Dan Santun Pakai Hati ) Oleh seluruh pegawai Di RSUD Leuwiliang
MANFAAT
Untuk Reformasi Birokrasi diharapkan bisa memberikankontribusi dalam pencapaian visi instansi Rumah Sakit Umum Daerah Leuwiliang dan meningkatnya kualitas SDM dalam memberikan pelayanan
Untuk Organisasi
- Meningkatnya kunjungan masyarakat
- Meningkatnya kepuasan pemberi jasa
- Meningkatnya daya saing Rumah Sakit
Untuk Masyarakat
- Meningkatnya kepercayaan masyarakat
- Meningkatnya kepuasan masyarakat
RUANG LINGKUP
- Pembuatan standar, tata cara dan langkah Pelaksanaan Pendekatan Pelayanan Tanpa Stress Melalui GELISPATI (Gerakan Lima S”: Senyum, Sapa, Salam, Sopan Dan Santun Pakai Hati ) Oleh Perawat Di RSUD Leuwiliang.
- Pemakaian Pinberbentuk senyum oleh perawat
- Pemasangan logo/semboyan Inspiratif/Banner/ Spanduk
- Pemilihan dan Pemberian penghargaan terhadap perawat teladan (Perawat Idol)
- Pelaksanaan lomba Gelispati
- Program Kancil
Dengan pentingnya komunikasi pada anak maka perlu dibuatlah sebuah kerangka acuan dalam komunikasi Theurapetik KANCIL (Komunikasi Anak Kecil)
Tujuan
Meningkatkan kompetensi komunikasi theurapetik KANCIL (Komunikasi Anak Kecil) bagi SDM keperawatan di Ruang Anak RSUD Leuwiliang Kabupaten Bogor. Secara khusus, program ini juga ditujukan bagi Perawat agar dapat memahami komunikasi theurapetik KANCIL (komunikasi anak kecil); dan Perawat dapat mengaplikasikan komunikasi theurapetik KANCIL (komunikasi anak kecil) dengan media bantu dengan tema “ Ciptakan keakraban pasien anak ”.program ini sendiri memiliki sasaran dalam komunikasi theurapetik KANCIL (komunikasi anak kecil) adalah seluruh perawat di ruang inap anak RSUD Leuwiliang
Tahapan Komunikasi Theurapetik Kancil (Komunikasi Anak Kecil)
- Fase prainteraksi.
Yaitu tahapan sebelum perawat bertemu dengan pasien, pada tahapan ini perawat menyiapkan peralatan untuk asuhan keperawatan, melihat catatan medis pasien yang akan dirawat, menetukan rencana interaksi dan tujuannya, dan evaluasi diri. Agar dalam melakukan komunikasi lancar maka strategi saat prainteraksi harus dilakukan, yaitu mengeksplorasi perasaan diri, menganalisis kelemahan diri, mengumpulkan data pasien dan berpikir positif. Perawat juga menganalisis usia pasien dan mempersiapkan bahan komunikasi dan alat bantu komunikasi sesuai dengan batasan usia.
- Fase orientasi dan perkenalan.
yaitu tahap dimana perawat pertama kali bertemu dengan pasien, atau setelah bertemu dengan pasien dan membebaskan diri dari semua barang bawaan. Pada tahap ini perawat memberi salam kepada pasien, memperkenalkan diri, mengevaluari keadaan pasien, membuat dan mengingatkan kontrak perawat dengan pasien, serta menggali informasi pasien lebih banyak dengan menjalin hubungan saing percaya antar perawat danpasien. Dalam tahap ini perawat harus membina hubungan saling percaya, bersikap menarima, melakukan kontrak, bertanya kepada keluarga tentang topik yang menarik, mengeksplorasi perasaan dan mengidentifikasi masalah pasien agar dapat lancar dalam berkomunikasi. Dalam kaitanya dengan komunikasi pada anak perawat harus membina hubungan dengan anak, karena hubungan anak sangat diperlukan karena kepercayaan dari anak akan mempermudah saat melakukan tindakan. Hal-hal yang dapat dilakukan dengan menjalin kepercayaan dengan anak adalah dengan teknik-teknik pendekatan anak.
- Fase kerja.
yaitu melakukan tindakan asuhan keperawatan yang dibutuhkan pasien. Untuk memperlancar fase kerja, perawat harus dapat mengatasi penolakan perilaku adaptif dengan komunikasi yang nyaman. Penolakan pada tindakan pada anak dapat diatasi dengan teknik-teknik yang ada.
- Fase Terminasi.
yaitu tahap akhir dimana perawat telah selesai melakukan tindakan asuhan keprawatan dan akhir setiap pertemuan perawat dengan pasien. Dalam tahap ini perawat melakukan evaluasi hasil, tahap tindak lanjut, kontrak yang akan datang, serta eksplorasi perasaan. Strategi agar lancar dalam tahap ini adalah, perawat harus mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi,melakukan evaluasi subjektif dan menyepakati tindak lanjut.
- Teknik Komunikasi Theurapetik KANCIL(Komunikasi Anak Kecil)
1. Melalui orang lain atau pihak ketiga dengan cara komunikasi dengan melibatkan orangtua atau keluarga.
2. Bercerita, yang disampaikan sesuai dengan pesan yang akan disampaikan.
3. Memfasilitasi, dengan mendengarkan dan menerima respon dari apa pesan yang sampaikan anak. Dengan tidak merefleksikan ungkapan negativ yang menunjukan kesan jelek pada anak.
4. Biblioterapi, melalui pemberian buku atau majalah yang sesuai dengan tema komunikasi.
5. Meminta untuk menyebutkan keinginan anak untuk menyebutkan keluhan dan perasaanya pada saat itu.
6. Pilihan pro dan kontra dengan memberikan pengajuan pada situasi yang menunjukan pilihan yang positif dan negatif sesuai dengan pendapat anak
7. Penggunaan skala, adalah ungkapan untuk meggambarkan perasaan anak. Perasaan yang dapat diungkapkan adalah nyeri, sedih dan lain-lain.
8. Menulis, melalui cara ini anak dapat mengekspresikan dirinya baik pada keadaan sedih, marah, atau diam. Dapat digunakan jika anak sudah bisa menulis.
9. Menggambar, Melalui cara ini anak dapat mengekspresikan dirinya baik pada keadaan sedih, marah, atau diam. Tugas perawat adalah mengkonfiramsi dari gambar tersebut.
10. Bermain, Bermain alat efektif pada anak dalam membantu berkomunikasi, melalui ini hubungan interpersonal antara anak, perawat dan orang sekitarnya dapat terjalin dan pesan-pesan dapat disampaikan.
- Perubahan Ruang Perawatan Anak
Salah satu fokus pada perubahan ini adalah perubahan layanan, khususnya ruang perawatan anak, dimana dilakukan konsep pelayanan perawatan tanpa stres, baik bagi pasien maupun petugasnya.
Dalam hal ini, RSUD Leuwiliang, telah memugar sisi tampilan ruang yang lebih baik dan mengedepankan visual yang menarik bagi anak, mulai dari warna hingga desain ruangan dengan menampilkan gambar-gambar kartun yang disukai anak-anak.
- Instalasi Gawat Darurat (IGD) Terpadu
Pada tahun 2016, RSUD Leuwiliang telah memiliki ruang IGD Terpadu dengan penataan ruangan serta penambahan fasilitas untuk ruang operasi ciro, baik operasi umum maupun operasi kandungan.
IGD Terpadu dibangun berdasarkan tingginya angka kunjungan pasien dan terbatasnya ruangan. Selain itu, IGD Terpadu bisa melayani pasien umum serta pasien obsterti (PONEK). Dengan tujuan peningkatan pelayanan kepada masyarakat agar dapat terlayani dengan cepat dan tepat.
Keterpaduan disini adalah aksesibilitas layanan yang menyatu dalam satu ruangan, seperti akses ke Radiologi, Labotarium dan tindakan-tindakan Ciro lainnya.
- Pelayanan Kelas III
Sejak dibangunnya Gedung D sebagai sarana pelayanan perawatan, maka seluruh pelayanan Kelas III dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC).
- Gizi
Salah satu faktor pendukung layanan rawat inap adalah pemenuhan gizi bagi pasien yang dirawat yang sesuai dengan jenis penyakit dan dietnya. Pelayanan gizi yang dilakukan RSUD Leuwiliang adalah mengedepankan menu dan penyajian sesuai. Selain itu, RSUD Leuwiliang juga terus meningkatkan sarana prasaran penyajian dengan instalasi Gizi dengan dibangunnya Gedung Instalasi serta penambahan fasilitasnya.
- Tariff

Senin, 14 Desember 2015

Tata Sukarta ,Ketua KTNA Kabupaten Bogor "Curhat" Kepada Bupati Bogor

Komite Tani Nelayan Andalan(KTNA) Kabupaten Bogor melalui ketua nya,Tata Sukarta menyampaikan permasalahan yang menjadi polemik pertanian kepada Bupati Bogor,Hj.Nurhayanti, yang dalam acara pembukaan mimbar sarasehan. Ada beberapa poin yang disampaikan yang bertempat di aula kantor BKP5K Kabupaten Bogor, pada Selasa, (15/12) "Kami ingin curhat bahwa para petani membutuhkan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bogor seperti petani membutuhkan air karena bila air tidak ada pertanian akan mati, benih yang unggul,pupuk bersubsidi dan juga permodalan,"pintanya. Menanggapi permasalahan tersebut Bupati Bogor sangat menyambut kegiatan mimbar sarasehan tersebut, karena butuh sinegritas yang kuat antara para petani dan juga Pemerintah Daerah untuk membangun pertanian di Kabupaten Bogor. "Pemerintah Kabupaten Bogor dalam RPJMD sampai tahun 2018,memasukan dua indicator pada bidang pertanian dalam 25 penciri Kabupaten termaju yaitu produksi benih bersertifikat di hasilkan di Kabupaten Bogor dan hasil produksi ikan konsumsi dan non konsumsi tertinggi di Indonesia,inilah Bukti Pemerintah sangat memperhatikan sektor pertanian,"Ungkapnya. Menjawab permasalahan air yang di katakan oleh ketua KTNA, Bupati menjanjikan segera berkoordinasi dengan Kemen-PU untuk membangun waduk cijurai di wilayah cariu, karena pertanian di wilayah timur merupakan tadah hujan hanya satu kali panen sehingga perlu ada peningkatan panen bila ada waduk selanjut Pemerintah juga akan memperbaiki saluran irigasi dan juga normalisasi setu. "Pemasalahan air segera kita atas secara bertahap dan juga berkesinambungan dengan membuat waduk,perbaikkan irigasi dan normalisasi setu,"Jawabnya. Terkait dengan permasalahan Benih dan juga ia berharap benih pertanian di Kabupaten Bogor bersertifikat agar tidak mengambil benih dari luar sehingga para petani mendapatkan harga yang murah untuk benih dan pupuk,maka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor akan serius melakukan pembinaan proses pertanian hingga pembinihan dengan secara optimal dari hulu ke hilir. "Saya ini hasil benih pertanian di Kabupaten Bogor bersertifikat sesuai dengan Indicator Kabupaten Terrmaju,maka Pemkab Bogor akan terus bersinergi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) agar apa yang di harapkan bisa tercapai,"Tegasnya. Pada bidang permodalan Nurhayanti pun akan mengaet pihak swasta terutama bank untuk meningkatkan keberpihakannya kepada usaha sektor pertanian dalam menyediakan permodalan,sehingga para petani dan pelaku usaha tani memperoleh kesempatan lebih terbuka untuk meningkatkan usahanya. Pada kesempatan tersebut dihadiri sekitar 2600 kelompok tani dan turut hadir pula Kepala BP5K,Kadistanhut, Kadis Pertanian dan Perikanan.