DRAMAGA – Berangkat dari mulai lunturnya adat istiadat, tata krama dan sopan santun dalam bersikap, berbahasa, berbicara sehari-hari, baik terhadap orang tua, tetangga, teman, maupun kebiasaan kebiasaan budaya rendah hati, Paguyuban Dramaga bekerja sama dengan organisasi kepemudaan yang berdomisili di wilayah Kecamatan Dramaga, menggelar pertunjukan Seni budaya adat istiadat Sunda serta pencak Silat yang berlokasi di area halaman kantor kecamatan setempat, Senin (29/12).Bambang Somantri, Ketua Pelaksana mengatakan, pagelaran seni Sunda dan Pencak silat yang diprakarsai oleh semua anggota paguyubannya tersebut, sekaligus dalam rangka menyambut tutup tahun guna mengajak agar para pemuda di Dramaga tidak melulu menyambut tahun baru dengan cara berpesta pora.
"Pelaksanaan ini merupakan se buah ajakan yang positif, dimana seluruh remaja dan pemuda dipersilahkan mempertontonkan kebolehannya dalam penguasaan seni budaya Sunda. Termasuk menangkal agar masyarakat dan pemuda tidak terus menerus menyambut pergantian tahun dengan cara hura hura," kata Bambang kepada PAKAR.
Menurutnya, dalam pagelaran tersebut juga disisipkan bentuk festival, diantaranya festival tari tarian seperti Jaipong, Seni Karinding, Talempung, serta pertunjukan Pencak Silat yang di Ikuti oleh 15 perguruan Silat se-Kecamatan Dramaga.
"Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari empat paguyuban Sunda, ormas kepemudaan, para tokoh budayawan seperti Mama Arif Hidayat, Karyawan Faturahman (mantan Wabub), Dadang HP, serta seluruh tokoh masyarakat maupun Muspika Dramaga. Pagelaran ini merupakan pertunjukan pertama yang kami gelar," tukasnya.
Pengamat budaya dan sejarah sunda Karyawan Faturahman (mantan Wakil Bupati Bogor), menambahkan, pagelaran Seni sunda yang menghadirkan pertunjukan tari tarian dan pencak silat yang dominan diikuti kalangan anak anak dan remaja, menurutnya sangat tepat sasaran.
"Mengingat para generasi barulah dalam hal ini mereka kaum anak anak yang perlu lebih diutamakan pengenalan adat istiadat sunda yang sudah banyak dilupakan oleh generasi pendahulunya,” papar KF.
KF juga menjelaskan, semua bentuk kebiasaan adat istiadat sunda yang menjungjung tinggi budi pekerti harus mulai dijejali kepada Anak anak, diantaranya mereka harus tau mana budaya isin (malu), budaya Pamali (tidak baik) maupun budaya hormat kepada orang tua, yang saat ini semua kebudayaan tersebut sudah bergeser jauh.
“Sudah waktunya kita selamatkan bersama sama demi bangsa yang agung ini, Bangsa Sunda," pungkasnya.=JEF
Tidak ada komentar:
Posting Komentar