CIBINONG – Guna meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat, pihak manajemen RSUD Leuwiliang terus melakukan sejumlah
pembenahan. Tak tanggung-tanggung, dalam rangka persiapan Akreditasi
Rumah Sakit (RS) pada tahun 2016, RSUD Leuwiliang siap menyongsong
perubahan dengan menjadikan momen perubahan yang dilakukan pada tahun
2015 sebagai Tahun Perubahan.
Dalam perubahan ini, RSUD Leuwiliang juga telah menyusun sejumlah program yang didasari pada hasil evaluasi kinerja tahun sebelumnya melalui pemetaan permasalahan dan solusi serta melakukan pengembangan capacity building di sisi internal hingga peningkatakan layanan sistem informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) yang dilakukan dalam rangka perbaikan kualitas mutu pelayanan.
Beberapa langkah dan program pun dilakukan RSUD Leuwiliang demi meuwujudkan perubahan dalam upaya perwujudan misi Kabupaten Bogor menjadi Kabupaten Termaju di Indonesia. diantaranya :
- Program Gelispati
A. Dasar Permasalahan
Berdasarkan identifikasi permasalahan diatas maka untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan Rumah Sakit dan kepuasan pemberian pelayanan kepada pasien khususnya memberikan perasaan aman sekaligus menyenangkan sehingga semua pasien yang datang akan lebih cepat menyesuaikan diri terhadap proses perawatan / penyembuhan dipandang perlu adanya suatu terobosan inovasi/ perubahan berupa “ Pelaksanaan Pendekatan Pelayanan Tanpa Stress Melalui GELISPATI(Gerakan Lima S : Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun Pakai Hati) Oleh Perawat Di RSUD Leuwiliang”.
B. TUJUAN
Tujuan Jangka Pendek dari program ini adalah terselenggaranya Pelaksanaan Pendekatan Pelayanan Tanpa Stress Melalui GELISPATI (Gerakan Lima S”: Senyum, Sapa, Salam, Sopan Dan Santun Pakai Hati ) Oleh Perawat di RSUD Leuwiliang
Sedangkan untuk Tujuan Jangka Menengah, terselenggaranya Pelaksanaan Pendekatan Pelayanan Tanpa Stress Melalui GELISPATI (Gerakan Lima S”: Senyum, Sapa, Salam, Sopan Dan Santun Pakai Hati ) Oleh seluruh pegawai Di RSUD Leuwiliang
MANFAAT
Untuk Reformasi Birokrasi diharapkan bisa memberikankontribusi dalam pencapaian visi instansi Rumah Sakit Umum Daerah Leuwiliang dan meningkatnya kualitas SDM dalam memberikan pelayanan
Untuk Organisasi
- Meningkatnya kunjungan masyarakat
- Meningkatnya kepuasan pemberi jasa
- Meningkatnya daya saing Rumah Sakit
Untuk Masyarakat
- Meningkatnya kepercayaan masyarakat
- Meningkatnya kepuasan masyarakat
RUANG LINGKUP
- Pembuatan standar, tata cara dan langkah Pelaksanaan Pendekatan Pelayanan Tanpa Stress Melalui GELISPATI (Gerakan Lima S”: Senyum, Sapa, Salam, Sopan Dan Santun Pakai Hati ) Oleh Perawat Di RSUD Leuwiliang.
- Pemakaian Pinberbentuk senyum oleh perawat
- Pemasangan logo/semboyan Inspiratif/Banner/ Spanduk
- Pemilihan dan Pemberian penghargaan terhadap perawat teladan (Perawat Idol)
- Pelaksanaan lomba Gelispati
- Program Kancil
Dengan pentingnya komunikasi pada anak maka perlu dibuatlah sebuah kerangka acuan dalam komunikasi Theurapetik KANCIL (Komunikasi Anak Kecil)
Tujuan
Meningkatkan kompetensi komunikasi theurapetik KANCIL (Komunikasi Anak Kecil) bagi SDM keperawatan di Ruang Anak RSUD Leuwiliang Kabupaten Bogor. Secara khusus, program ini juga ditujukan bagi Perawat agar dapat memahami komunikasi theurapetik KANCIL (komunikasi anak kecil); dan Perawat dapat mengaplikasikan komunikasi theurapetik KANCIL (komunikasi anak kecil) dengan media bantu dengan tema “ Ciptakan keakraban pasien anak ”.program ini sendiri memiliki sasaran dalam komunikasi theurapetik KANCIL (komunikasi anak kecil) adalah seluruh perawat di ruang inap anak RSUD Leuwiliang
Tahapan Komunikasi Theurapetik Kancil (Komunikasi Anak Kecil)
- Fase prainteraksi.
Yaitu tahapan sebelum perawat bertemu dengan pasien, pada tahapan ini perawat menyiapkan peralatan untuk asuhan keperawatan, melihat catatan medis pasien yang akan dirawat, menetukan rencana interaksi dan tujuannya, dan evaluasi diri. Agar dalam melakukan komunikasi lancar maka strategi saat prainteraksi harus dilakukan, yaitu mengeksplorasi perasaan diri, menganalisis kelemahan diri, mengumpulkan data pasien dan berpikir positif. Perawat juga menganalisis usia pasien dan mempersiapkan bahan komunikasi dan alat bantu komunikasi sesuai dengan batasan usia.
- Fase orientasi dan perkenalan.
yaitu tahap dimana perawat pertama kali bertemu dengan pasien, atau setelah bertemu dengan pasien dan membebaskan diri dari semua barang bawaan. Pada tahap ini perawat memberi salam kepada pasien, memperkenalkan diri, mengevaluari keadaan pasien, membuat dan mengingatkan kontrak perawat dengan pasien, serta menggali informasi pasien lebih banyak dengan menjalin hubungan saing percaya antar perawat danpasien. Dalam tahap ini perawat harus membina hubungan saling percaya, bersikap menarima, melakukan kontrak, bertanya kepada keluarga tentang topik yang menarik, mengeksplorasi perasaan dan mengidentifikasi masalah pasien agar dapat lancar dalam berkomunikasi. Dalam kaitanya dengan komunikasi pada anak perawat harus membina hubungan dengan anak, karena hubungan anak sangat diperlukan karena kepercayaan dari anak akan mempermudah saat melakukan tindakan. Hal-hal yang dapat dilakukan dengan menjalin kepercayaan dengan anak adalah dengan teknik-teknik pendekatan anak.
- Fase kerja.
yaitu melakukan tindakan asuhan keperawatan yang dibutuhkan pasien. Untuk memperlancar fase kerja, perawat harus dapat mengatasi penolakan perilaku adaptif dengan komunikasi yang nyaman. Penolakan pada tindakan pada anak dapat diatasi dengan teknik-teknik yang ada.
- Fase Terminasi.
yaitu tahap akhir dimana perawat telah selesai melakukan tindakan asuhan keprawatan dan akhir setiap pertemuan perawat dengan pasien. Dalam tahap ini perawat melakukan evaluasi hasil, tahap tindak lanjut, kontrak yang akan datang, serta eksplorasi perasaan. Strategi agar lancar dalam tahap ini adalah, perawat harus mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi,melakukan evaluasi subjektif dan menyepakati tindak lanjut.
- Teknik Komunikasi Theurapetik KANCIL(Komunikasi Anak Kecil)
1. Melalui orang lain atau pihak ketiga dengan cara komunikasi dengan melibatkan orangtua atau keluarga.
2. Bercerita, yang disampaikan sesuai dengan pesan yang akan disampaikan.
3. Memfasilitasi, dengan mendengarkan dan menerima respon dari apa pesan yang sampaikan anak. Dengan tidak merefleksikan ungkapan negativ yang menunjukan kesan jelek pada anak.
4. Biblioterapi, melalui pemberian buku atau majalah yang sesuai dengan tema komunikasi.
5. Meminta untuk menyebutkan keinginan anak untuk menyebutkan keluhan dan perasaanya pada saat itu.
6. Pilihan pro dan kontra dengan memberikan pengajuan pada situasi yang menunjukan pilihan yang positif dan negatif sesuai dengan pendapat anak
7. Penggunaan skala, adalah ungkapan untuk meggambarkan perasaan anak. Perasaan yang dapat diungkapkan adalah nyeri, sedih dan lain-lain.
8. Menulis, melalui cara ini anak dapat mengekspresikan dirinya baik pada keadaan sedih, marah, atau diam. Dapat digunakan jika anak sudah bisa menulis.
9. Menggambar, Melalui cara ini anak dapat mengekspresikan dirinya baik pada keadaan sedih, marah, atau diam. Tugas perawat adalah mengkonfiramsi dari gambar tersebut.
10. Bermain, Bermain alat efektif pada anak dalam membantu berkomunikasi, melalui ini hubungan interpersonal antara anak, perawat dan orang sekitarnya dapat terjalin dan pesan-pesan dapat disampaikan.
- Perubahan Ruang Perawatan Anak
Salah satu fokus pada perubahan ini adalah perubahan layanan, khususnya ruang perawatan anak, dimana dilakukan konsep pelayanan perawatan tanpa stres, baik bagi pasien maupun petugasnya.
Dalam hal ini, RSUD Leuwiliang, telah memugar sisi tampilan ruang yang lebih baik dan mengedepankan visual yang menarik bagi anak, mulai dari warna hingga desain ruangan dengan menampilkan gambar-gambar kartun yang disukai anak-anak.
- Instalasi Gawat Darurat (IGD) Terpadu
Pada tahun 2016, RSUD Leuwiliang telah memiliki ruang IGD Terpadu dengan penataan ruangan serta penambahan fasilitas untuk ruang operasi ciro, baik operasi umum maupun operasi kandungan.
IGD Terpadu dibangun berdasarkan tingginya angka kunjungan pasien dan terbatasnya ruangan. Selain itu, IGD Terpadu bisa melayani pasien umum serta pasien obsterti (PONEK). Dengan tujuan peningkatan pelayanan kepada masyarakat agar dapat terlayani dengan cepat dan tepat.
Keterpaduan disini adalah aksesibilitas layanan yang menyatu dalam satu ruangan, seperti akses ke Radiologi, Labotarium dan tindakan-tindakan Ciro lainnya.
- Pelayanan Kelas III
Sejak dibangunnya Gedung D sebagai sarana pelayanan perawatan, maka seluruh pelayanan Kelas III dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC).
- Gizi
Salah satu faktor pendukung layanan rawat inap adalah pemenuhan gizi bagi pasien yang dirawat yang sesuai dengan jenis penyakit dan dietnya. Pelayanan gizi yang dilakukan RSUD Leuwiliang adalah mengedepankan menu dan penyajian sesuai. Selain itu, RSUD Leuwiliang juga terus meningkatkan sarana prasaran penyajian dengan instalasi Gizi dengan dibangunnya Gedung Instalasi serta penambahan fasilitasnya.
- Tariff
Dalam perubahan ini, RSUD Leuwiliang juga telah menyusun sejumlah program yang didasari pada hasil evaluasi kinerja tahun sebelumnya melalui pemetaan permasalahan dan solusi serta melakukan pengembangan capacity building di sisi internal hingga peningkatakan layanan sistem informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) yang dilakukan dalam rangka perbaikan kualitas mutu pelayanan.
Beberapa langkah dan program pun dilakukan RSUD Leuwiliang demi meuwujudkan perubahan dalam upaya perwujudan misi Kabupaten Bogor menjadi Kabupaten Termaju di Indonesia. diantaranya :
- Program Gelispati
A. Dasar Permasalahan
Berdasarkan identifikasi permasalahan diatas maka untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan Rumah Sakit dan kepuasan pemberian pelayanan kepada pasien khususnya memberikan perasaan aman sekaligus menyenangkan sehingga semua pasien yang datang akan lebih cepat menyesuaikan diri terhadap proses perawatan / penyembuhan dipandang perlu adanya suatu terobosan inovasi/ perubahan berupa “ Pelaksanaan Pendekatan Pelayanan Tanpa Stress Melalui GELISPATI(Gerakan Lima S : Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun Pakai Hati) Oleh Perawat Di RSUD Leuwiliang”.
B. TUJUAN
Tujuan Jangka Pendek dari program ini adalah terselenggaranya Pelaksanaan Pendekatan Pelayanan Tanpa Stress Melalui GELISPATI (Gerakan Lima S”: Senyum, Sapa, Salam, Sopan Dan Santun Pakai Hati ) Oleh Perawat di RSUD Leuwiliang
Sedangkan untuk Tujuan Jangka Menengah, terselenggaranya Pelaksanaan Pendekatan Pelayanan Tanpa Stress Melalui GELISPATI (Gerakan Lima S”: Senyum, Sapa, Salam, Sopan Dan Santun Pakai Hati ) Oleh seluruh pegawai Di RSUD Leuwiliang
MANFAAT
Untuk Reformasi Birokrasi diharapkan bisa memberikankontribusi dalam pencapaian visi instansi Rumah Sakit Umum Daerah Leuwiliang dan meningkatnya kualitas SDM dalam memberikan pelayanan
Untuk Organisasi
- Meningkatnya kunjungan masyarakat
- Meningkatnya kepuasan pemberi jasa
- Meningkatnya daya saing Rumah Sakit
Untuk Masyarakat
- Meningkatnya kepercayaan masyarakat
- Meningkatnya kepuasan masyarakat
RUANG LINGKUP
- Pembuatan standar, tata cara dan langkah Pelaksanaan Pendekatan Pelayanan Tanpa Stress Melalui GELISPATI (Gerakan Lima S”: Senyum, Sapa, Salam, Sopan Dan Santun Pakai Hati ) Oleh Perawat Di RSUD Leuwiliang.
- Pemakaian Pinberbentuk senyum oleh perawat
- Pemasangan logo/semboyan Inspiratif/Banner/ Spanduk
- Pemilihan dan Pemberian penghargaan terhadap perawat teladan (Perawat Idol)
- Pelaksanaan lomba Gelispati
- Program Kancil
Dengan pentingnya komunikasi pada anak maka perlu dibuatlah sebuah kerangka acuan dalam komunikasi Theurapetik KANCIL (Komunikasi Anak Kecil)
Tujuan
Meningkatkan kompetensi komunikasi theurapetik KANCIL (Komunikasi Anak Kecil) bagi SDM keperawatan di Ruang Anak RSUD Leuwiliang Kabupaten Bogor. Secara khusus, program ini juga ditujukan bagi Perawat agar dapat memahami komunikasi theurapetik KANCIL (komunikasi anak kecil); dan Perawat dapat mengaplikasikan komunikasi theurapetik KANCIL (komunikasi anak kecil) dengan media bantu dengan tema “ Ciptakan keakraban pasien anak ”.program ini sendiri memiliki sasaran dalam komunikasi theurapetik KANCIL (komunikasi anak kecil) adalah seluruh perawat di ruang inap anak RSUD Leuwiliang
Tahapan Komunikasi Theurapetik Kancil (Komunikasi Anak Kecil)
- Fase prainteraksi.
Yaitu tahapan sebelum perawat bertemu dengan pasien, pada tahapan ini perawat menyiapkan peralatan untuk asuhan keperawatan, melihat catatan medis pasien yang akan dirawat, menetukan rencana interaksi dan tujuannya, dan evaluasi diri. Agar dalam melakukan komunikasi lancar maka strategi saat prainteraksi harus dilakukan, yaitu mengeksplorasi perasaan diri, menganalisis kelemahan diri, mengumpulkan data pasien dan berpikir positif. Perawat juga menganalisis usia pasien dan mempersiapkan bahan komunikasi dan alat bantu komunikasi sesuai dengan batasan usia.
- Fase orientasi dan perkenalan.
yaitu tahap dimana perawat pertama kali bertemu dengan pasien, atau setelah bertemu dengan pasien dan membebaskan diri dari semua barang bawaan. Pada tahap ini perawat memberi salam kepada pasien, memperkenalkan diri, mengevaluari keadaan pasien, membuat dan mengingatkan kontrak perawat dengan pasien, serta menggali informasi pasien lebih banyak dengan menjalin hubungan saing percaya antar perawat danpasien. Dalam tahap ini perawat harus membina hubungan saling percaya, bersikap menarima, melakukan kontrak, bertanya kepada keluarga tentang topik yang menarik, mengeksplorasi perasaan dan mengidentifikasi masalah pasien agar dapat lancar dalam berkomunikasi. Dalam kaitanya dengan komunikasi pada anak perawat harus membina hubungan dengan anak, karena hubungan anak sangat diperlukan karena kepercayaan dari anak akan mempermudah saat melakukan tindakan. Hal-hal yang dapat dilakukan dengan menjalin kepercayaan dengan anak adalah dengan teknik-teknik pendekatan anak.
- Fase kerja.
yaitu melakukan tindakan asuhan keperawatan yang dibutuhkan pasien. Untuk memperlancar fase kerja, perawat harus dapat mengatasi penolakan perilaku adaptif dengan komunikasi yang nyaman. Penolakan pada tindakan pada anak dapat diatasi dengan teknik-teknik yang ada.
- Fase Terminasi.
yaitu tahap akhir dimana perawat telah selesai melakukan tindakan asuhan keprawatan dan akhir setiap pertemuan perawat dengan pasien. Dalam tahap ini perawat melakukan evaluasi hasil, tahap tindak lanjut, kontrak yang akan datang, serta eksplorasi perasaan. Strategi agar lancar dalam tahap ini adalah, perawat harus mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi,melakukan evaluasi subjektif dan menyepakati tindak lanjut.
- Teknik Komunikasi Theurapetik KANCIL(Komunikasi Anak Kecil)
1. Melalui orang lain atau pihak ketiga dengan cara komunikasi dengan melibatkan orangtua atau keluarga.
2. Bercerita, yang disampaikan sesuai dengan pesan yang akan disampaikan.
3. Memfasilitasi, dengan mendengarkan dan menerima respon dari apa pesan yang sampaikan anak. Dengan tidak merefleksikan ungkapan negativ yang menunjukan kesan jelek pada anak.
4. Biblioterapi, melalui pemberian buku atau majalah yang sesuai dengan tema komunikasi.
5. Meminta untuk menyebutkan keinginan anak untuk menyebutkan keluhan dan perasaanya pada saat itu.
6. Pilihan pro dan kontra dengan memberikan pengajuan pada situasi yang menunjukan pilihan yang positif dan negatif sesuai dengan pendapat anak
7. Penggunaan skala, adalah ungkapan untuk meggambarkan perasaan anak. Perasaan yang dapat diungkapkan adalah nyeri, sedih dan lain-lain.
8. Menulis, melalui cara ini anak dapat mengekspresikan dirinya baik pada keadaan sedih, marah, atau diam. Dapat digunakan jika anak sudah bisa menulis.
9. Menggambar, Melalui cara ini anak dapat mengekspresikan dirinya baik pada keadaan sedih, marah, atau diam. Tugas perawat adalah mengkonfiramsi dari gambar tersebut.
10. Bermain, Bermain alat efektif pada anak dalam membantu berkomunikasi, melalui ini hubungan interpersonal antara anak, perawat dan orang sekitarnya dapat terjalin dan pesan-pesan dapat disampaikan.
- Perubahan Ruang Perawatan Anak
Salah satu fokus pada perubahan ini adalah perubahan layanan, khususnya ruang perawatan anak, dimana dilakukan konsep pelayanan perawatan tanpa stres, baik bagi pasien maupun petugasnya.
Dalam hal ini, RSUD Leuwiliang, telah memugar sisi tampilan ruang yang lebih baik dan mengedepankan visual yang menarik bagi anak, mulai dari warna hingga desain ruangan dengan menampilkan gambar-gambar kartun yang disukai anak-anak.
- Instalasi Gawat Darurat (IGD) Terpadu
Pada tahun 2016, RSUD Leuwiliang telah memiliki ruang IGD Terpadu dengan penataan ruangan serta penambahan fasilitas untuk ruang operasi ciro, baik operasi umum maupun operasi kandungan.
IGD Terpadu dibangun berdasarkan tingginya angka kunjungan pasien dan terbatasnya ruangan. Selain itu, IGD Terpadu bisa melayani pasien umum serta pasien obsterti (PONEK). Dengan tujuan peningkatan pelayanan kepada masyarakat agar dapat terlayani dengan cepat dan tepat.
Keterpaduan disini adalah aksesibilitas layanan yang menyatu dalam satu ruangan, seperti akses ke Radiologi, Labotarium dan tindakan-tindakan Ciro lainnya.
- Pelayanan Kelas III
Sejak dibangunnya Gedung D sebagai sarana pelayanan perawatan, maka seluruh pelayanan Kelas III dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC).
- Gizi
Salah satu faktor pendukung layanan rawat inap adalah pemenuhan gizi bagi pasien yang dirawat yang sesuai dengan jenis penyakit dan dietnya. Pelayanan gizi yang dilakukan RSUD Leuwiliang adalah mengedepankan menu dan penyajian sesuai. Selain itu, RSUD Leuwiliang juga terus meningkatkan sarana prasaran penyajian dengan instalasi Gizi dengan dibangunnya Gedung Instalasi serta penambahan fasilitasnya.
- Tariff
Tidak ada komentar:
Posting Komentar