Majalah Pajajaran Raya
Lebih Dekat,Lebih Terbuka, Enak Dibaca Dan Perlu
Minggu, 17 April 2016
14 KK ‘Terlantar’ di Aula Kecamatan Dramaga DBMP Tidak Tepati Janji Soal Bahas Ganti Rugi
DRAMAGA – Camat Dramaga, Baehaki mengaku kesal dengan jajaran Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kabupaten Bogor yang tak datang untuk membahas kelanjutan soal ganti rugi lahan dan bangunan bersama 14 KK warga penghuni Dramaga Cantik bersama Kontraktornya terkait kelanjutan Jalan Lingkar Dramaga, Minggu (17/4).
Kekesalan Camat kian menjadi setelah tidak ada informasi apapun atas penundaan kelanjutan pertemuan yang dijanjikan oleh jajaran Dinas sendiri apakah informasi itu melalui SMS maupun lewat telepon.
“Anehnya saat dihubungi oleh staff kami, tak ada keterangan apapun soal penundaan tersebut. Padahal janji adanya pertemuan dengan 14 KK penghuni Dramaga Cantik dan pengembang pasa Sabtu (16/4) lalu, ya janji itukan munculnya dari Dinas sendiri. Inikan konyol, dan terkesan mempermainkan,” kesal Baehaki kepada PAKAR.
Menurut Baehaki, dengan penundaan pertemuan yang tanpa pemberitahuan tersebut yang sebelumnya disepakati bersama untuk digelar di aula kantor kecamatan, mau tak mau rencana pembahasan ganti untung atas rumah rumah warga di Dramaga Cantik yang terkena proyek jalan, jadi tertunda lagi.
“Kejadian ini pasti akan mencoreng nama baik Bupati yang sudah mentargetkan pekerjaan proyek Lingkar Dramaga rampung 2016. Justru saya khawatir, bisa bisa penyelesaiannya akan berbalik molor lagi,” geramnya.
Camat menambahkan, apa batalnya pertemuan tersebut, lantaran belumnya adanya uangnya atau hanya untuk mengulur-ngulur waktu saja. “Sedangkan warga yang sudah siap dan punya niat baik, begitupun juga sang pemilik developernya sudah legowo datang, ehh sekarang malah Dinas yang mengecewakan. Jelas, saya melihat, realisasi penyelesaian atas proyek Lingkar Dramaga ini, tidak ditangani oleh orang-orang professional,” kecamnya.
Jika pada kenyataannya, proses penyelesaian realisasi pembangunan Jalan lingkar Laladon Dramaga tetap terus seperti sekarang ini, yang dikhawatirkan, rampungnya Proyek akan terus tertunda tunda dan tertunda, seperti sebelumnya yang pernah digadang gadang pada tahun 2004 hingga sekarang tidak juga selesai .
“Dari awal kami pihak Muspika Dramaga siap mempasilitasi dan kalau perlu ikut mengawal penyelesaiannya, namun prediksi saya apa sepertinya Binamarga lebih menyenangi untuk menyelesaikannya sendirian saja,” tukasnya.
Salah seorang warga pemilik satu rumah di Dramaga Cantik yang enggan disebutkan namanya, mengatakan, ia bersama ke tigabelas warga lainnya dibuat pada hari Sabtu menunggu kehadiran pihak dinas.
Sementara itu, Saeful, pengendara angkutan Kota Laladon Bubulak Petir, mengaku stres dengan kemacetan panjang yang terjadi mulai dari siang hingga sore diseputar jalan Raya Dramaga hingga Caringin, apalagi pada hari sabtu dan minggu.
“Setoran tekor terus pak akibat macet, bisa bisa keluarga tidak makan kalau macet melulu. Coba saja kalau Jalan Lingkar Dramaga Laladon sudah ada, mungkin semua sopir angkot jurusan Laladon Bubulak Petir, maupun Ciherang bisa bernafas lega terbebas dari macet,” pungkasnya. =
Jumat, 08 April 2016
Nekat Blokir Jalan, Pedemo Galuga Ditahan
CIBUNGBULANG – Permasalahan TPA Galuga, Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, bak bola salju dan terus menimbulkan polemik. Warga Kampung Cijujung, Desa Cijujung, Kecamatan Cibungbulang pun terus menyerukan ganti rugi akibat pencemaran air lindi yang sudah merusak 20 hektare lahan persawahan dan lingkungan warga. Sampai-sampai pedemo nekat memblokir jalan hingga ditahan Polsek Dramaga.
Kemarin, untuk kali ketiga warga Cijujung menghadang laju truk sampah. Kali ini aksi tersebut digelar di depan pintu masuk Kampus IPB Dramaga sekitar pukul 09:00 WIB. Namun lantaran dianggap mengganggu ketertiban dan akses umum, aksi tersebut dibubarkan anggota Polsek Dramaga.
Ketika memblokade pedemo, sempat terjadi aksi saling dorong dengan petugas. Akhirnya puluhan truk sampah kembali lewat dan aksi tersebut kembali dilakukan hingga pukul 15:00 WIB dengan damai tanpa penghentian truk sampah. “Agar kericuhan tidak meluas, akhirnya salah satu koordinator aksi Nanang digiring ke Mapolsek Dramaga,” kata AKP Sarifudin Gayo kepada Metropolitan.
Sebelum berunjuk rasa, Gayo mengaku telah memberikan arahan kepada pedemo agar tidak mengganggu arus lalu lintas. Namun, massa nekat memblokir jalan. “Kalau aksi tersebut sudah berizin ya silakan saja. Akan tetapi tidak boleh mengganggu ketertiban dan keamanan,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Forum Silaturahmi Warga Sekitar TPA Galuga (Fosga) Nanang Hidayat mengatakan, aksi tersebut masih tetap sama. Warga menuntut ganti rugi lahan pertanian yang tercemar akibat dampak air lindi Galuga. “Ada 20 hektare lahan pertanian milik warga Desa Galuga, Cijujung dan Dukuh yang tercemar. Akibatnya, mereka pun merugi,” bebernya.
Menurut dia, sesuai perjanjian antara Pemkot dan Pemkab Bogor Nomor 658.1/2/PRJN/KS/2011 dan 658.1/PERJ.199-DKP/2011 tentang Perpanjangan Kerja Sama Pengelolaan TPA Galuga telah berakhir pada 31 Desember 2015. Namun hingga saat ini pengiriman sampah ke Galuga masih terus berjalan. (ads/b/feb/py)
Senin, 28 Maret 2016
Ratusan Kades Mau Ontrog Gedung Sate Jika Banprov di Alihkan
TENJOLAYA- Ratusan kepala desa di Kabupaten Bogor, menyatakan sikapnya untuk ikut serta dalam aksi demo ke Gedung Sate Bandung, guna mempertanyakan dana Bantuan Provinsi (Banprov), kepada Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.
Para pamong ini mengaku kecewa dengan keputusan Gubernur yang mengalihkan dana bantuan itu ‘hanya’ untuk penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2016, pada September mendatang.
"Saya selaku pimpinan di tingkat Desa Tapos Satu, dipastikan akan ikut serta dalam unjuk rasa ke Gedung Sate Bandung, Rabu (31/3) ini, karena memang sudah kewajiban kami mempertanyakan hak-hak Desa yang tidak disalurkan, hanya demi kegiatan PON," ujar OO Kosasih kepada Info Gunung salak Senin (28/3)
Ia , menjelaskan pengalihan dana banprov untuk PON merupakan bukti ketidaksiapan Pemprov Jabar menggelar perhelatan dua tahunan ini. "Kalau sudah lama tahu Jabar tuan rumah PON, Pemprov Jabar, seharusnya jauh jauh hari sudah menganggarkan alokasi dana untuk kegiatan tersebut, jangan mengganggu yang memang sudah menjadi haknya Desa, sedangkan dana itu sangat dibutuhkan bagi pembangunan Desa," terangnya.
Adanya pengalihan ini, kata Ujang membuat dilemma pemerintah desa. Sebab, selain dipastikan menganggu rencana pembangunan di wilayah, juga dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap kepercayaan masyarakat.
“Mereka (masyarakat-red) tahunya di tahun 2016 ini kembali menerima Banprov, dan itu sudah pasti dialokasikan untuk pembangunan ditingkat perkampungan. Tapi dengan tidak turunnya banprov itu, tentunya mereka akan bertanya kenapa tidak dibangun, dan bisa jadi mereka su’udzon kepada Kades, jangan-jangan uangnya dimakan sama kades. Sementara mereka tidak tahu, dana itu tidak turun karena apa. Ini yang menjadi beban juga bagi kami sebagai kepala Desa. Itu sebabnya saya akan ikut ke Bandung bersama kades-kades lainnya,” beber OO
Ditambahkan OO, Kosasih, untuk program pembangunan semua sudah dirapatkan dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes). “Jika alokasi dana Banprov akan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, dan lain-lainnya, tapi dengan kondisi seperti ini, tentunya semua akan tertunda, akan tetapi yang jadi permasalahan adalah masyarakat pasti akan mempertanyakan kepada kami Pemerintah Desa, itu sebabnya kedatangan saya ingin mendengar pernyataan dari Jabar, untuk disampaikan kepada masyarakat, kaitan dengan permasalahan ini,” sebutnya.
Sementara itu, Ketua APDESI Kabupaten Bogor, Muhamad Amsori Setiawan saat berada di Megamendung menyesalkan ditundanya bantuan provinsi untuk infrastrukrtur ini. Karena menurutnya, selain sudah disusun Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes).
Rencana pembangunan yang akan dibiayai Banprov ini pun sudah disosialisasikan kepada masyarakat. "Kalau ditunda begini, kami khawatir masyarakat menjadi curiga, karena rencana pembangunan yang akan dibiayai Banprov ini ternyata ditunda," ujar Amsori
Tidak hanya jadi persolan desa, ditundanya bantuan dana Banprov ini pun menjandi sangat berpengaruh pada pembangunan desa khususnya pembangunan infrastruktur. "Banyak yang sudah direncanakan, akhirnya gagal," terangnya.
Sebagai bentuk kekecewaan para Kepala Desa, Apdesi kata Amsori, berencana mendatangi BPMPD Provinsi Jawa Barat untuk menanyakan langsung dasar penundaan Banprov ini. "Kami akan datangi BPMPD Provinsi pekan depan, dan kami pun akan menyurati Bupati untuk menindaklanjuti penundaan Banprov ini," ungkapnya
Kepala Desa Sukamakmur ini pun meminta agar Banprov 2016 bisa dicairkan sesegera mungkin. "Banprov 2016 harus segera turun, itu sudah harga mati," tegasnya.
Hal senada dikatakan, Kepala Desa Sukamanah, Kec Megamendung, Ismail, menurutnya, rencana mendatangi BPMPD provinsi ini pun tidak hanya dilakukan para Kades se-Kabupaten Bogor, tapi rencananya 5700 desa di Provinsi Jabar akan melakukan hal yang sama. "Kami kira kebijakan Gubernur Ahmad Heryawan melakukan penundaan dana Banprov sudah masuk pada pelanggaran, dan kami meminta agar penundaan ini dikaji ulang, dan kami melihat penundaan ini dilakukan sepihak," ujar Ismail.
Sependapat dengan keduanya, Kepala Desa Kemang, Kecamatan Kemang, Entang Suana mengeluhkan ditundanya dana Banprov ini. Dengan begitu rencana pembangunan menjadi gagal terealisasi. "Kami harus bicara apa ke masyarakat, sedangkan semuanya sudah disusun," tandasnya.=
Diposkan oleh Tata Niar di 23.14 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Senin, 29 Februari 2016
Kades Cinangneng Peduli Rumah Kaum Duafa
Menjadi Pemimpin itu tidak mudah butuh pengorbanan dan kerja iklas jika tidak janganlah menjadi Pemimpin karena akan susah sendiri nanti nya,namun akan bahagia jika menjadi pemimpin di jalankan dengan pebuh amanah dan kesungguhan.
Tenjolaya (IGS) = Menurut Kepala Dwsa Cinangneng, dirinya tidak hanya membangun RUTILAHU, bahkan Rumah tidak layak huni di salah satu warganya pun di bangun dengan kocek sendiri..”bebernya saat bertemu dengan IGS di ruang kerjanya Selasa (1/3)
Lebih lanjut dirinya tidak hanya turun dan ikut bekerja membantu warga lain nya yang sedang bergotong royong membangun rumah warga yang tidak mampu atas nama Dani berlokasi Rt 06/04,namum Kades Cinangneng Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor juga membiayai seluruh pembangunan tersebut sebagai rasa tanggungjawab yang besar kepada warga yang tidak mampu , Cacat dan kaum duafa.
Azis Nampak tidak canggung ketiak menggunakan pacul untuk meratakan tanah saat sedang bekerja bakti bersama warga ,bagi Azis menjadi pemimpin bukan meminta di layani tetapi justru melayani warga nya dengan iklas,dan apa saja yang masih mampu di perbuat maka perbuatlah dengan sungguh-sungguh.
Masyarakat sekitar sangat senang dengan kepemimpinan Kades Azis ,karena dikenal ramah dan dekat dengan warga ,bahkan rela mengorbankan sebagian rejeki nya buat bantu warga miskin dan tidak mampu.
Seperti yang di katakan Komarudin Ibnu Mikam salah satu tokoh masyarakat di wilayah nya bahwa Rumah Dani Rt 06/04 Desa Cinangneng Kecamatan Tenjolaya Dikomandoi langsung Azis, Kades Cinangneng Alhamdulillah...Lurah turun langsung dn membiayai pembangunan rumah dhuafa Dani dan adiknya yang cacat (botak)
Minggu, 28 Februari 2016
8 Program Unggulan Polres Bogor,Diterapkan Di Polsek Cibungbulang
CIBUNGBULANG (FBI)–Kapolsek ini dekenal memiliki kepribadian yang hangat, ramah , sopan dan santun terhadap rekan media. Suasana akrab dan kekeluargaan bersamanya dirasakan wartawan saat melakukan kunjungan liputan mengenai kegiatan- kegiatan polsek Cibungbulang, Kabupaten Bogor, pada hari Minggu, 28 Maret
“Saya pribadi dan seluruh anggota, Alhamdulillah telah dapat melaksanakan 8 Program Unggulan Polres Bogor yang dilakukan di wilayah desa- desa yang ada di kecamatan Cibungbulang dan kecamatan Pamijahan, dimana 2 kecamatan itu adalah wilayah kerja Polsek Cibungbulang,” kisahnya.
8 Program Unggulan Polres Bogor yang telah dilaksanakan Polsek Cibungbulang adalah Apel Bersama kewilayahan, Ngariung bareng polisi, Polisi tausiah, Polisi berkebun, Door to door, Patroli Hot Spot, Goes kamtibmas dan Sosialisasi tertib lalu lintas ke sekolah-sekolah. Kapolsek juga menjelaskan tentang 8 Program unggulan tersebut.
“Apel bersama Kewilayahan dapat menciptakan sinergitas Polisi serta adanya kesamaan pola fikir (stake Holder) antara jajaran muspika. Selain itu dengan adanya apel bersama kewilayahan dapat terjalinnya kekompakan antara Polri dengan instasi terkait, sehingga timbul kebersamaan dalam menciptakan kondisi Harkamtibmas agar kondusif,” jelasnya.
Adapun program Ngariung bareng polisi bertujuan meningkatkan silaturahmi antara polisi dengan masyarakat sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan masyarakat kepada polri, dan dengan adanya kegiatan tersebut polisi dapat menyerap informasi, kritik dan saran dari masyarakat.
Polsek Cibungbulang kemudian memaparkan program-program unggulan Polres Bogor lainnya:
Polisi Tausiah merupakan kegiatan yang dilakukan oleh anggotan kepolisian dalam mendirikan
himbauan kamtibmas melalui acara-acara keagamaan sehingga menciptakan opini positif dari masyarakat bahwa anggota kepolisian lebih humanis dan religius.
Polisi Berkebun bertujuan mensukseskan program pemerintah dalam bidang ketahanan pangan, dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur di wilayah masing-masing dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan kepada petani penggarap sehingga dapat mengurangi pengangguran.
Polisi door to door bertujuan untuk bersilaturahmi dengan warga dan seluruh anggota keluarganya, dengan sarana dialogis polisi dapat menyerap informasi dan aspirasi warga masyarakat, sehingga warga masyarakat menjadi tombol darurat (Panic button) sebagai deteksi dini tindak kejahatan.
Polisi hot spot adalah suatu kegiatan yang dilakukan anggota kepolisian dengan cara melaksanakan
patroli ke tempat obyek-obyek vital maupun ke lokasi titik rawan kejahatan.
Goes Kamtibmas adalah suatu kegiatan preventif yag dilakukan oleh anggota kepolisian dengan cara menggunakan sepeda goes. Dengan adanya kegiatan tersebut, anggota kepolisian yang
berpatroli menggunakan sepeda goes dapat menjangkau ke tempat- tempat yang tidak
bisa dilalui oleh patroli kendaraan roda empat sehingga kepolisian lebih fleksibel dalam
berharap suatu informasi di lingkungan masyarakat.
Sosialisasi tertib lalu lintas ke sekolah-sekolah, yakni suatu kegiatan kepolisian dalam memberikan himbauan dan arahan kepada guru maupun siswa-siswi sekolah mengenai tertib lalu lintas agar para guru maupun siswa-siswi dapat menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas.
Selai itu polsek cibungbulang juga mengadakan kegiatan operasi Polsek Cibungbulang dimana
kegiatan tersebut meliputi operasi miras dan operasi petasan. Dengan adanya operasi polsek Cibungbulang tersebut, agar dapat menciptakan kondisi wilayah hukum polsek Cibungbulang yang kondusif.
Rony Mardiatun juga menjelaskan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut terus dilaksanakan dan menjadi kegiatan rutin. Dengannya ia berharap polisi dapat menjadi mitra masyarakat dan bekerja sama antara polisi dan masyarakat agar terciptanya kondisi di wilayah desa- masing- masing menjadi aman, tertib, kondusif dan hidup damai. (/Rilis Polsek CBB)
Selasa, 29 Desember 2015
Tumbuhkan Kembali Adat Istiadat Dramaga Gelar Pertunjukan Seni Sunda dan Pencak Silat
DRAMAGA – Berangkat dari mulai lunturnya adat istiadat, tata krama dan sopan santun dalam bersikap, berbahasa, berbicara sehari-hari, baik terhadap orang tua, tetangga, teman, maupun kebiasaan kebiasaan budaya rendah hati, Paguyuban Dramaga bekerja sama dengan organisasi kepemudaan yang berdomisili di wilayah Kecamatan Dramaga, menggelar pertunjukan Seni budaya adat istiadat Sunda serta pencak Silat yang berlokasi di area halaman kantor kecamatan setempat, Senin (29/12).Bambang Somantri, Ketua Pelaksana mengatakan, pagelaran seni Sunda dan Pencak silat yang diprakarsai oleh semua anggota paguyubannya tersebut, sekaligus dalam rangka menyambut tutup tahun guna mengajak agar para pemuda di Dramaga tidak melulu menyambut tahun baru dengan cara berpesta pora.
"Pelaksanaan ini merupakan se buah ajakan yang positif, dimana seluruh remaja dan pemuda dipersilahkan mempertontonkan kebolehannya dalam penguasaan seni budaya Sunda. Termasuk menangkal agar masyarakat dan pemuda tidak terus menerus menyambut pergantian tahun dengan cara hura hura," kata Bambang kepada PAKAR.
Menurutnya, dalam pagelaran tersebut juga disisipkan bentuk festival, diantaranya festival tari tarian seperti Jaipong, Seni Karinding, Talempung, serta pertunjukan Pencak Silat yang di Ikuti oleh 15 perguruan Silat se-Kecamatan Dramaga.
"Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari empat paguyuban Sunda, ormas kepemudaan, para tokoh budayawan seperti Mama Arif Hidayat, Karyawan Faturahman (mantan Wabub), Dadang HP, serta seluruh tokoh masyarakat maupun Muspika Dramaga. Pagelaran ini merupakan pertunjukan pertama yang kami gelar," tukasnya.
Pengamat budaya dan sejarah sunda Karyawan Faturahman (mantan Wakil Bupati Bogor), menambahkan, pagelaran Seni sunda yang menghadirkan pertunjukan tari tarian dan pencak silat yang dominan diikuti kalangan anak anak dan remaja, menurutnya sangat tepat sasaran.
"Mengingat para generasi barulah dalam hal ini mereka kaum anak anak yang perlu lebih diutamakan pengenalan adat istiadat sunda yang sudah banyak dilupakan oleh generasi pendahulunya,” papar KF.
KF juga menjelaskan, semua bentuk kebiasaan adat istiadat sunda yang menjungjung tinggi budi pekerti harus mulai dijejali kepada Anak anak, diantaranya mereka harus tau mana budaya isin (malu), budaya Pamali (tidak baik) maupun budaya hormat kepada orang tua, yang saat ini semua kebudayaan tersebut sudah bergeser jauh.
“Sudah waktunya kita selamatkan bersama sama demi bangsa yang agung ini, Bangsa Sunda," pungkasnya.=JEF
Luar Biasa, Ibu Ibu Kampung Ciangsana Desa Cibeber 2 Bangun jalan
LEUWILIANG - Puluhan Ibu rumah tangga (IRT), warga Kampung Angsana 2, RT 4/RW 7, Desa Cibeber 2, Kecamatan Leuwiliang, sejak Jumat (18/12) lalu, turun tangan langsung ikut berjibaku membangun jalan lingkungan di kampung tempat tinggal mereka sejarak kurang lebih 900 meter.
Dibantu suami dan anak mereka, ke-45 ibu-ibu ini terlihat begitu bersemangat bergotong-royong mengangkut bahan material seperti pasir, batu split, semen sebagai bentuk apresiasi dan dukungan yang mereka berikan meski melalui tenaga. Apalagi mengingat kampung tinggal mereka jarang tersentuh pembangunan, mau tak mau semua wargaa serentak siap singsingan lengan mensukseskan pembangunan.
Epon (33) ibu rumah tangga yang terlibat gotong royong memanggul material Pasir dan batu split untuk kebutuhan pembangunan jalan lingkungan dikampungnya itu mengatakan, keterlibatan tenaga mereka tersebut, agar pengecoran jalan lingkungannya bisa cepat selesai.
“Cape ya cape sih, tapi kalau para ibu ibunya gak turun tangan ikut kerjabakti, pasti
Pengecoran jalan dilingkungan tempat tinggal kami ini bisa lama dong selesainya,” kata Epon, kepada PAKAR, Senin (21/12).
Epon mewakili puluhan ibu ibu warga Kampung Angsana 2, mengaku senang kini jalan lingkungan menuju kampung tinggal mereka sudah diperbaiki, terlebih tidak licin berlumpur pada saat musim hujang Desember ini.
“Lama juga sih, hampir sepuluh tahun jalan lingkungan di kampung kami ini tidak pernah diperbaiki apalagi tersentuh pembangunan dari pemerintah. Nah setelah ini selesai, selanjutnya kami berharap rumah rumah warga yang tidak layak huni juga bisa mendapat bantuan saluran progam RTLH,” harapnya.
Ketua RT 4/RW 7 Asman, menjelaskan, kegiatan kerja bakti gotong-royong yang melibatkan para ibu-ibu diwilayahnya, memang sering berlangsung. “Mulai dari gotong royong membersihkan rumput dan semak yang sudah menutupi badan jalan lingkungan, ikut membantu memasak untuk tetangga yang sedang hajatan, kemudian membetulkan saluran air pancuran untuk kebutuhan mandi dan cuci, semua ibu ibu dikampung kami memang pada kompak,” kata Asman.
Lebih lanjut dibeberkan Asman, mengingat target pekerjaan jalan lingkungannya harus dua minggu ini selesai, bukan saja ibu-ibu dan suaminya saja yang disertakan berggotong-royong. “Termasuk semua anak anak warga turut berjibaku. Nah untuk mengatur supaya para ibu ibunya tidak kelelahan, kami buatkan jadwal, dimana setiap hari jumlah ibu ibunya sebanyak 6 orang ditambah tenaga suami dan anak anaknya,” bebernya.
Dengan terealisasinya pembangunan jalan lingkungan tersebut, sambung Asman, warga merasa bersyukur, sebab sudah bertahun tahun diajukan tidak pernah terlaksana. “Makanya semua warga siap berswadaya, baik tenaga maupun lainnya sejak hari jumat lalu. Sementara bahan materialnya langsung dikirim oleh pemerintah Desa. Setelah pekerjaan ini selesai, kami berharap ada 10 unit rumah warga yang tidak layak huni, sekiranya bisa mendapat bantuan RTLH ditahun 2016 mendatang dari Pemkab Bogor serta rehab Mushola,” tandasnya.=JEF
Dibantu suami dan anak mereka, ke-45 ibu-ibu ini terlihat begitu bersemangat bergotong-royong mengangkut bahan material seperti pasir, batu split, semen sebagai bentuk apresiasi dan dukungan yang mereka berikan meski melalui tenaga. Apalagi mengingat kampung tinggal mereka jarang tersentuh pembangunan, mau tak mau semua wargaa serentak siap singsingan lengan mensukseskan pembangunan.
Epon (33) ibu rumah tangga yang terlibat gotong royong memanggul material Pasir dan batu split untuk kebutuhan pembangunan jalan lingkungan dikampungnya itu mengatakan, keterlibatan tenaga mereka tersebut, agar pengecoran jalan lingkungannya bisa cepat selesai.
“Cape ya cape sih, tapi kalau para ibu ibunya gak turun tangan ikut kerjabakti, pasti
Pengecoran jalan dilingkungan tempat tinggal kami ini bisa lama dong selesainya,” kata Epon, kepada PAKAR, Senin (21/12).
Epon mewakili puluhan ibu ibu warga Kampung Angsana 2, mengaku senang kini jalan lingkungan menuju kampung tinggal mereka sudah diperbaiki, terlebih tidak licin berlumpur pada saat musim hujang Desember ini.
“Lama juga sih, hampir sepuluh tahun jalan lingkungan di kampung kami ini tidak pernah diperbaiki apalagi tersentuh pembangunan dari pemerintah. Nah setelah ini selesai, selanjutnya kami berharap rumah rumah warga yang tidak layak huni juga bisa mendapat bantuan saluran progam RTLH,” harapnya.
Ketua RT 4/RW 7 Asman, menjelaskan, kegiatan kerja bakti gotong-royong yang melibatkan para ibu-ibu diwilayahnya, memang sering berlangsung. “Mulai dari gotong royong membersihkan rumput dan semak yang sudah menutupi badan jalan lingkungan, ikut membantu memasak untuk tetangga yang sedang hajatan, kemudian membetulkan saluran air pancuran untuk kebutuhan mandi dan cuci, semua ibu ibu dikampung kami memang pada kompak,” kata Asman.
Lebih lanjut dibeberkan Asman, mengingat target pekerjaan jalan lingkungannya harus dua minggu ini selesai, bukan saja ibu-ibu dan suaminya saja yang disertakan berggotong-royong. “Termasuk semua anak anak warga turut berjibaku. Nah untuk mengatur supaya para ibu ibunya tidak kelelahan, kami buatkan jadwal, dimana setiap hari jumlah ibu ibunya sebanyak 6 orang ditambah tenaga suami dan anak anaknya,” bebernya.
Dengan terealisasinya pembangunan jalan lingkungan tersebut, sambung Asman, warga merasa bersyukur, sebab sudah bertahun tahun diajukan tidak pernah terlaksana. “Makanya semua warga siap berswadaya, baik tenaga maupun lainnya sejak hari jumat lalu. Sementara bahan materialnya langsung dikirim oleh pemerintah Desa. Setelah pekerjaan ini selesai, kami berharap ada 10 unit rumah warga yang tidak layak huni, sekiranya bisa mendapat bantuan RTLH ditahun 2016 mendatang dari Pemkab Bogor serta rehab Mushola,” tandasnya.=JEF
Langganan:
Komentar (Atom)