Leuwiliang,PAJAR= Lahir dan dibesarkan di keluarga miskin, membentuk karakter Iyud Tayudin menjadi sosok pekerja keras dan pantang
menyerah. Sejak kecil ia sudah harus melakoni pekerjaan yang semestinya dikerjakan
orang dewasa. Sejak Sekolah Dasar (Yudie
sapaan akrabnya ) kecil sudah membantu orang tuanya dengan bekerja
sebagai kuli angkut bata sulitnya bukan main.
Praktis, hari berganti hari hanya berkutat pada
upaya bertahan hidup (struggle for life), alih-alih menyusun perencanaan masa
depan bagi anak-anaknya. Saat itu, masa depan bagi Iyud Tayudin adalah gambaran
akan kegetiran hidup yang siap mencengkram di masa depan.
Pernah jadi kenek angkot tutur Yudie seraya menerawang, saat menceritakan kisah
hidupnya ke wartawan Pajajaran Raya Memasuki bangku SMP, Yudie tumbuh menjadi
pemuda usia belasan yang berbadan kekar. Dengan postur kekar dan kuat, sudah
tentu sangat menguntungkan. Dengan begitu, ia merasa lebih percaya diri
melakukan pekerjaan-pekerjaan lebih berat. Pekerjaan lebih berat tentu penghasilannya
lebih besar, begitu fikirannya muda saat itu. Pada usia setamparan anak SMP, menjadi
kuli angkut, kuli bangunan, dan melakoni pekerjaan orang dewasa lainnya.
"SAYA TIDAK MENYESAL TERLAHIR
DAN DIBESARKAN DARI KELUARGA YANG MISKIN" seloroh Yudie sambil mengenang masa lalunya. Sebagai anak dari
keluarga miskin di desa terpencil, dirinya tidak pernah merasa risih apalagi
gengsi melakukan pekerjaan yang menurut orang lain adalah pekerjaan kasar.
Semua pekerjaan ini dilakoni hingga Yudie menamatkan bangku SMA Kornita
Kampus IPB
Dari pengalaman hidup yang demikian berat dan menantang, sosok Yudie terbentuk
menjadi pribadi yang tidak gamang menghadapi masa kini dan kikuk menatap masa
depan.
"SAYA SELALU BERUSAHA MENJADI
YANG TERBAIK DIMANAPUN SAYA BERADA",
tuturnya. Di ruangan kelas, meskipun sebagian besar waktunya dihabiskan untuk
bekerja di luar jam sekolah, saya tidak pernah tinggal kelas berprinsip,
biarpun anak desa, tetapi harus selalu tampil beda, demikian semboyannya yang
diulang berkali-kali selama perbincangan itu. Selepas SMA, mulai menggeluti
sebagai sopir truck,karena kepawaiannya bergaul ahir nya saat desa Cibeber Dua
melaksanakan pemilihan kepala desa
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Tak ada yang
bisa menduga nasib seseorang. Kalau , Yudie berketetapan hati melangkah menuju
kursi Kepala desa Cibeber dua ,Dan berhasil menduduki kursi kepala desa tentu
hal tersebut merupakan pilihan dan tekadnya. Baginya, ia merasa sudah waktunya
untuk mengabdikan diri pada masyarakat.(KW)