Rabu, 11 Maret 2015

Cerpen : CINTA ITU TELAH USAI

Cerpen : CINTA ITU TELAH USAI

Siang itu Rania merasakan kegelisahan yang luar biasa. Padahal hari itu pekerjaan yang harus diselesaikan cukup banyak.  Akan tetapi, dari tadi tangannya belum mengetik sebaris pun kalimat untuk memulai tugasnya, pikirannya benar – benar kacau.

Untuk menghilangkan kegelisahan hatinya Rania berusaha membuka FB – nya. Rania mencoba membuka akun pertemannya, namun heran mengapa nama yang dicarinya tidak muncul di daftar pertemanannya. Rania bingung dan heran, dalam hati merasa tidak pernah menghapus atau membatalkan pertemanan dengan orang itu.
Sementara beberapa kali smsnya pun tidak ada jawaban meski di dalam laporan pengiriman jelas – jelas terkirim. Rania mencoba menelepon beberapa kali pun tak diangkat, padahal nada sambung terdengar jelas. Ada apa dengannya, sakitkah atau memang dia ingin memutuskan hubungan dengan Rania begitu saja tanpa penjelasan sama sekali.
Karena beberapa kali usahanya menguhubungi gagal akhirnya Rania kesal. Ditutup akun FB- nya dan HP-nya pun dibiarkan saja di meja kerjanya. Rania mematikan komputernya, dan pergi untuk mengambil jatah makan siangnya.
Setelah mengambil jatah makan siangnya, Rania meletakkan jatah rangsumnya di mejanya, kemudian pergi ke musholah untuk melaksanakan sholat dhuhur. Setelah sholat dan berdoa sebenarnya Rania ingin sekali menangis, tetapi malu kalau nanti ada orang yang di musholah  tahu. Rania mencoba menahan tangis itu meski rasanya sakit di tenggorakan. Selesai dzikir dan berdoa, Rania kembali ke ruang kerjanya. 
Meskipun sebenarnya perut lapar, tetapi rasanya malas baginya untuk makan. Dipandanginya nasi rangsum jatah makan siangnya. Tatapan matanya kosong, pikirannya menerawang. Rania mencoba mengingat-ingat kejadian beberapa hari belakangan. Mengingat apakah melakukan kesalahan atau berkata sesuatu yang tidak mengenakan sehingga menyinggung perasaan. Namun, Rania merasa tidak ada sesuatu hal atau perkataan yang diperbuatannya.
“ Jangan melamun terus…nasi untuk dimakan bukan dipandangi,” tiba-tiba Hadi sudah ada di depannya tanpa Rania tahu. Dan ini sangat mengagetkannya.   
“Ah, njenengan ngageti saja”, jawab Rania kaget.
“Ada masalah? Dari tadi aku perhatikan kok melamun, wajahnya sedih begitu”, Tanya Hadi.
“ Tidak ada apa-apa hanya sedikit pusing, tugas numpuk bingung mau mulai dari mana”, jawab Rania berbohong.
“Beneran nih, tidak bohong? Kalau ada masalah cerita dong aku siap jadi pendengar yang setia kok”, kata Hadi menawarkan diri. 
“ Nggak, beneran kok, oya Njenengan sudah makan siang?” Rania mencoba menutupi kesedihan dan mengalihkan persoalan.
“Sudahlah, ini malah kekenyangan jadi ngantuk. Ya sudah makan dulu, nanti baru kerja lagi, tenang nanti aku bantu pekerjaan Njenengan. Apa sih yang nggak untuk Bu Raniaku he he…”, kata Hadi sambil tersenyum.
Rania tersenyum memandang Hadi.
”Halah gombal, jangan bicara begitu nanti kalau ada yang dengar aku tidak enak, nanti dikira kita ada apa – apa “.kata Rania.
“Nyantai aja lagi, memang begitu kan? kalau aku banyak pekerjaan dan masalah Njenengan selalu membantu dan mau mendengarkan semua uneg – unegku, apa salahnya kalau aku pun ingin demikian dong”, Hadi mencoba menjelaskan.
“Iya …iya makasih atas perhatian Njenengan, nanti kalau aku butuh aku pasti menghubungi kok jangan kuatir. Aku mau makan jangan diajak ngobrol terus dong.” Kata Rania.
Monggo ….dipun dhahar Bu Rania Saraswati hi hi hi…..” sahut Hadi sambil pergi menuju meja kerjanya.
Rania tersenyum, dalam hati berguman “Untung ada Kamu Hadi. Kegalauanku sedikit berkurang.”
                
Hadi memang menaruh perhatian khusus pada Rania. Bahkan kadang perhatiannya berlebihan, dan ini membuat suami Rania cemburu. Namun, Rania tak pernah ambil pusing dengan semua itu, entah itu sikap Hadi atau sikap suaminya yang cemburuan.
                
Jam empat sore Rania sampai di rumah. Seperti biasa kondisi rumah berantakan. Sementara suaminya masih tidur lelap di depan TV. Rania masuk kamar. Dilemparkannya tas di atas kasur. Jilbabnya dilepas, dan ke kamar mandi mencuci kaki. Rania merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, rasa lelah benar – benar dirasakannya sore itu.
“Bu, jadi mengantar aku ke dokter hari ini?” Tanya Wawan anak Rania yang paling besar.
“ Ya, sebentar ibu masih lelah, mau istirahat dulu, Kamu sudah mandi belum?” jawab Rania.
“Belum, ya sudah aku mandi dulu.” Kata Wawan dan langsung pergi mandi. Rania menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan pelan-pelan untuk mengusir kegelisahan hatinya.n  
Setelah mandi dan sholat, Rania mengantar Wawan ke dokter. Sampai di tempat praktik ternyata dokter belum datang. Untuk beberapa waktu para pasien menunggu. Setelah setengah jam menunggu dokter pun akhirnya datang. Untung Rania dan anaknya mendapat giliran pertama jadi tidak harus menunggu lagi untuk sampai di nomor antrian. Rania dan Wawan masuk ruang periksa. Selesai periksa Rania dan Wawan langsung pulang.
 Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi mata rasanya belum mau dipejamkan. Meskipun rasanya sudah mengantuk sekali, Rania tak bisa memejamkan mata. Biasanya kalau gelisah seperti ini ada seseorang yang bisa diajak sharing. Akan tetapi, sekarang kegelisahan ini penyebabnya adalah seseorang itu. Ada apa dengan dia beberapa kali disms tidak dibalas, ditelepon pun tak diangkat. Sakit kah atau memang sengaja dia tidak mau lagi berhubungan.
Entah semalam Rania tertidur jam berapa, yang jelas hari ini bangun kesiangan. Pagi itu Rania tidak sempat lagi melaksanakan sholat subuh. Bangun dari tempat tidur langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Untung semalam sebelum tidur sudah masak nasi. Jadi pagi ini hanya membuat lauknya. Waktu sudah menunjukkan jam enam, sarapan sudah siap, Rania bergegas membangunkan anaknya yang kecil. Meski sudah kelas V SD, Ale memang masih manja. Tiap pagi Rania dan suaminya benar-benar dilatih kesabarannya menghadapi sikap Ale.
Pukul tujuh Rania sudah siap untuk berangkat kerja. Pagi ini Rania tidak sempat beres-beres  rumah. Setelah pamitan dengan suaminya, Rania berangkat kerja. Setengah jam waktu yang ditempuh untuk sampai ke kantor. Kantor sudah mulai ramai. Rania langsung menuju ruang kerjanya, setelah memarkirkan motornya. Tugas-tugas yang belum diselesaikan kemarin segera diselesaikan. Hari ini Rania bertekad menyelesaikan semuanya.
Untuk beberapa waktu Rania sempat melupakan persoalan batinnya. Sebenarnya Rania butuh seseorang untuk diajak cerita, tetapi tidak punya keberanian, rasa malu juga yang menyebabkannya tidak berani cerita kepada siapa pun. Kalau sampai ada yang tahu kegelisahan hatinya, mereka semua pasti akan menyalahkannya. Menudingnya sebagai istri yang tidak setia,karena menjalin hubungan dengan laki-laki lain,entah apa pun alasannya. Rania sendiri bingung dengan status hubungannya dengan Dani, benarkah dia kekasihnya. Selama ini hubungan mereka hanya lewat HP. Memang hubungan itu terasa unik. Dua setengah tahun hubungan itu terjalin begitu rapi. Meski mereka belum pernah ketemuan. Dan setelah sekian “cerita cinta”  mereka jalani, tiba-tiba tanpa ada alasan yang jelas, Dani memutuskan hubungan itu tanpa penjelasan apa-apa. Rania benar-benar bingung dibuatnya. Seandainya Dani mengatakan alasannya mungkin Rania tidak akan segelisah ini. Meski rasa sakit pasti ada. Dari awal Rania sudah siap akan konsekuensi  yang akan diterimanya selama mereka menjalin hubungan itu.
Rania menutup komputernya, lega rasanya beban di pikirannya sudah berkurang. Tugas sudah selesai, tinggal menyerahkan pada bosnya. Tinggal satu ganjalan dalam hati, yaitu masalah hubungannya dengan Dani. Setelah berpikir cukup lama, Rania akhirnya berketetapan hati, Rania sudah memiliki keputusan. Sepertinya memang tidak ada gunanya menjalin hubungan ini lagi. Rasa bersalah yang selama  ini dirasakan akan hilang bersama berakhirnya hubungannya dengan Dani. Rania membuka kontak HP nya untuk mencari nomor Dani. Untuk kesekian kali Rania mengumpulkan keberanian untuk menghubungi Dani. Meski sudah tahu kalau bakal kecewa. Rania menelepon Dani, dan tersambung, tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya, Rania kirim sms.
Rasanya tak ada lagi yang perlu untuk dipertahankan dari hubungan ini. Aku tidak tahu sebabnya mengapa tiba-tiba kamu memutuskan silahturahim  di antara kita,tetapi aku pikir ini yang terbaik buat kita. Terima kasih atas semua yang sudah kamu berikan kepadaku, aku mohon maaf kalau ada kesalahan yang telah aku perbuat. Semoga kamu sehat dan baik-baik selalu. Dan cepat dapat pendamping hidup sebagai pengganti istrimu dulu.”
Setelah kirim sms, rasanya beban yang menghimpit benar-benar lepas, meski matanya berkaca – kaca. Rasa sakit memang benar – benar dirasa di hati, namun Rania harus kuat. Rania yakin seiring berjalan waktu sakit ini akan berkurang dan akhirnya sembuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar