Cerpen : CINTA ITU TELAH USAI
Siang itu Rania merasakan kegelisahan yang luar biasa. Padahal hari itu pekerjaan yang harus diselesaikan cukup banyak. Akan tetapi, dari tadi tangannya belum mengetik sebaris pun kalimat untuk memulai tugasnya, pikirannya benar – benar kacau.
Untuk menghilangkan kegelisahan hatinya Rania berusaha
membuka FB – nya. Rania mencoba membuka akun pertemannya, namun heran mengapa
nama yang dicarinya tidak muncul di daftar pertemanannya. Rania bingung dan
heran, dalam hati merasa tidak pernah menghapus atau membatalkan pertemanan
dengan orang itu.
Sementara beberapa kali smsnya pun tidak ada jawaban
meski di dalam laporan pengiriman jelas – jelas terkirim. Rania mencoba
menelepon beberapa kali pun tak diangkat, padahal nada sambung terdengar jelas.
Ada apa dengannya, sakitkah atau memang dia ingin memutuskan hubungan dengan
Rania begitu saja tanpa penjelasan sama sekali.
Karena beberapa kali usahanya menguhubungi gagal akhirnya
Rania kesal. Ditutup akun FB- nya dan HP-nya pun dibiarkan saja di meja
kerjanya. Rania mematikan komputernya, dan pergi untuk mengambil jatah makan
siangnya.
Setelah mengambil jatah makan siangnya, Rania meletakkan jatah
rangsumnya di mejanya, kemudian pergi ke musholah untuk melaksanakan sholat
dhuhur. Setelah sholat dan berdoa sebenarnya Rania ingin sekali menangis,
tetapi malu kalau nanti ada orang yang di musholah tahu. Rania mencoba
menahan tangis itu meski rasanya sakit di tenggorakan. Selesai dzikir dan
berdoa, Rania kembali ke ruang kerjanya.
Meskipun sebenarnya perut lapar, tetapi rasanya
malas baginya untuk makan. Dipandanginya nasi rangsum jatah makan siangnya.
Tatapan matanya kosong, pikirannya menerawang. Rania mencoba mengingat-ingat
kejadian beberapa hari belakangan. Mengingat apakah melakukan kesalahan atau
berkata sesuatu yang tidak mengenakan sehingga menyinggung perasaan. Namun,
Rania merasa tidak ada sesuatu hal atau perkataan yang diperbuatannya.
“ Jangan melamun terus…nasi untuk dimakan bukan
dipandangi,” tiba-tiba Hadi sudah ada di depannya tanpa Rania tahu. Dan ini
sangat mengagetkannya.
“Ah, njenengan ngageti saja”, jawab Rania kaget.
“Ada masalah? Dari tadi aku perhatikan kok melamun,
wajahnya sedih begitu”, Tanya Hadi.
“ Tidak ada apa-apa hanya sedikit pusing, tugas numpuk
bingung mau mulai dari mana”, jawab Rania berbohong.
“Beneran nih, tidak bohong? Kalau ada masalah cerita dong
aku siap jadi pendengar yang setia kok”, kata Hadi menawarkan diri.
“ Nggak, beneran kok, oya Njenengan sudah makan
siang?” Rania mencoba menutupi kesedihan dan mengalihkan persoalan.
“Sudahlah, ini malah kekenyangan jadi ngantuk. Ya sudah
makan dulu, nanti baru kerja lagi, tenang nanti aku bantu pekerjaan Njenengan.
Apa sih yang nggak untuk Bu Raniaku he he…”, kata Hadi sambil tersenyum.
Rania tersenyum memandang Hadi.
”Halah gombal, jangan bicara begitu nanti kalau ada yang dengar aku tidak enak, nanti dikira kita ada apa – apa “.kata Rania.
”Halah gombal, jangan bicara begitu nanti kalau ada yang dengar aku tidak enak, nanti dikira kita ada apa – apa “.kata Rania.
“Nyantai aja lagi, memang begitu kan? kalau aku banyak
pekerjaan dan masalah Njenengan selalu membantu dan mau mendengarkan
semua uneg – unegku, apa salahnya kalau aku pun ingin demikian dong”,
Hadi mencoba menjelaskan.
“Iya …iya makasih atas perhatian Njenengan, nanti kalau
aku butuh aku pasti menghubungi kok jangan kuatir. Aku mau makan jangan diajak
ngobrol terus dong.” Kata Rania.
“Monggo ….dipun dhahar Bu Rania Saraswati hi hi
hi…..” sahut Hadi sambil pergi menuju meja kerjanya.
Rania tersenyum, dalam hati berguman “Untung ada Kamu
Hadi. Kegalauanku sedikit berkurang.”
Hadi memang menaruh perhatian khusus pada Rania. Bahkan kadang perhatiannya
berlebihan, dan ini membuat suami Rania cemburu. Namun, Rania tak pernah ambil
pusing dengan semua itu, entah itu sikap Hadi atau sikap suaminya yang
cemburuan.
Jam empat sore Rania sampai di rumah. Seperti biasa kondisi rumah berantakan.
Sementara suaminya masih tidur lelap di depan TV. Rania masuk kamar.
Dilemparkannya tas di atas kasur. Jilbabnya dilepas, dan ke kamar mandi mencuci
kaki. Rania merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, rasa lelah benar – benar
dirasakannya sore itu.
“Bu, jadi mengantar aku ke dokter hari ini?” Tanya Wawan
anak Rania yang paling besar.
“ Ya, sebentar ibu masih lelah, mau istirahat dulu, Kamu
sudah mandi belum?” jawab Rania.
“Belum, ya sudah aku mandi dulu.” Kata Wawan dan langsung
pergi mandi. Rania menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan pelan-pelan untuk
mengusir kegelisahan hatinya.n
Setelah mandi dan sholat, Rania mengantar Wawan ke
dokter. Sampai di tempat praktik ternyata dokter belum datang. Untuk beberapa
waktu para pasien menunggu. Setelah setengah jam menunggu dokter pun akhirnya datang.
Untung Rania dan anaknya mendapat giliran pertama jadi tidak harus menunggu
lagi untuk sampai di nomor antrian. Rania dan Wawan masuk ruang periksa.
Selesai periksa Rania dan Wawan langsung pulang.
Waktu sudah
menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi mata rasanya belum mau dipejamkan.
Meskipun rasanya sudah mengantuk sekali, Rania tak bisa memejamkan mata.
Biasanya kalau gelisah seperti ini ada seseorang yang bisa diajak sharing. Akan
tetapi, sekarang kegelisahan ini penyebabnya adalah seseorang itu. Ada apa
dengan dia beberapa kali disms tidak dibalas, ditelepon pun tak diangkat. Sakit
kah atau memang sengaja dia tidak mau lagi berhubungan.
Entah semalam Rania tertidur jam berapa, yang jelas hari
ini bangun kesiangan. Pagi itu Rania tidak sempat lagi melaksanakan sholat
subuh. Bangun dari tempat tidur langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Untung semalam sebelum tidur sudah masak nasi. Jadi pagi ini hanya membuat
lauknya. Waktu sudah menunjukkan jam enam, sarapan sudah siap, Rania bergegas
membangunkan anaknya yang kecil. Meski sudah kelas V SD, Ale memang masih
manja. Tiap pagi Rania dan suaminya benar-benar dilatih kesabarannya menghadapi
sikap Ale.
Pukul tujuh Rania sudah siap untuk berangkat kerja. Pagi
ini Rania tidak sempat beres-beres rumah. Setelah pamitan dengan
suaminya, Rania berangkat kerja. Setengah jam waktu yang ditempuh untuk sampai
ke kantor. Kantor sudah mulai ramai. Rania langsung menuju ruang kerjanya,
setelah memarkirkan motornya. Tugas-tugas yang belum diselesaikan kemarin
segera diselesaikan. Hari ini Rania bertekad menyelesaikan semuanya.
Untuk beberapa waktu Rania sempat melupakan persoalan
batinnya. Sebenarnya Rania butuh seseorang untuk diajak cerita, tetapi tidak
punya keberanian, rasa malu juga yang menyebabkannya tidak berani cerita kepada
siapa pun. Kalau sampai ada yang tahu kegelisahan hatinya, mereka semua pasti
akan menyalahkannya. Menudingnya sebagai istri yang tidak setia,karena menjalin
hubungan dengan laki-laki lain,entah apa pun alasannya. Rania sendiri bingung
dengan status hubungannya dengan Dani, benarkah dia kekasihnya. Selama ini
hubungan mereka hanya lewat HP. Memang hubungan itu terasa unik. Dua setengah
tahun hubungan itu terjalin begitu rapi. Meski mereka belum pernah ketemuan.
Dan setelah sekian “cerita cinta” mereka jalani, tiba-tiba tanpa ada
alasan yang jelas, Dani memutuskan hubungan itu tanpa penjelasan apa-apa. Rania
benar-benar bingung dibuatnya. Seandainya Dani mengatakan alasannya mungkin
Rania tidak akan segelisah ini. Meski rasa sakit pasti ada. Dari awal Rania
sudah siap akan konsekuensi yang akan diterimanya selama mereka menjalin
hubungan itu.
Rania menutup komputernya, lega rasanya beban di
pikirannya sudah berkurang. Tugas sudah selesai, tinggal menyerahkan pada
bosnya. Tinggal satu ganjalan dalam hati, yaitu masalah hubungannya dengan
Dani. Setelah berpikir cukup lama, Rania akhirnya berketetapan hati, Rania
sudah memiliki keputusan. Sepertinya memang tidak ada gunanya menjalin hubungan
ini lagi. Rasa bersalah yang selama ini dirasakan akan hilang bersama
berakhirnya hubungannya dengan Dani. Rania membuka kontak HP nya untuk mencari
nomor Dani. Untuk kesekian kali Rania mengumpulkan keberanian untuk menghubungi
Dani. Meski sudah tahu kalau bakal kecewa. Rania menelepon Dani, dan
tersambung, tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya, Rania kirim sms.
Rasanya tak ada lagi yang perlu untuk dipertahankan dari
hubungan ini. Aku tidak tahu sebabnya mengapa tiba-tiba kamu memutuskan
silahturahim di antara kita,tetapi aku pikir ini yang terbaik buat kita.
Terima kasih atas semua yang sudah kamu berikan kepadaku, aku mohon maaf kalau
ada kesalahan yang telah aku perbuat. Semoga kamu sehat dan baik-baik selalu.
Dan cepat dapat pendamping hidup sebagai pengganti istrimu dulu.”
Setelah kirim sms, rasanya beban yang menghimpit
benar-benar lepas, meski matanya berkaca – kaca. Rasa sakit memang benar –
benar dirasa di hati, namun Rania harus kuat. Rania yakin seiring berjalan
waktu sakit ini akan berkurang dan akhirnya sembuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar