Rabu, 06 Mei 2015

Bocah Ajaib Ikut UN Tingkat SMP


"Ujian paket B kali ini juga diikuti oleh peserta paling muda berusia 10 tahun atas nama Cendikiawan Suryaatmadja alias Diky dan peserta tertua bernama Herlina Suhandi" (Edgar Suratman, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor )

BOGOR - Ada seorang bocah usia 10 tahun di Kota Bogor yang memiliki dengan tingkat kecerdasan atau Intelligence quotient (IQ) 200 mengikuti Ujian Nasional (UN) 2015 tingkat SMP/sederajat. Uniknya, bocah dengan klasifikasi kecerdasan jenius itu tak mengikuti ujian di sekolah resmi, melainkan Paket B.
Cendikiawan Suryatmaja (Diki) tampak serius mengikuti ujian di ruang 7 di SDN Bondongan, Bogor Selatan, kemarin. Ia mengikuti ujian kesetaraan tingkat SMP karena bocah itu mendapat peluang untuk mempersingkat masa sekolahnya. Tampaknya, Diki, demikian ia biasa disapa, tak kesulitan menjawab soal.
Meski berusia lebih muda, bocah ajaib ini tampak begitu gampang menjawab soal satu per satu. Setelah selesai, Diki pun menyerahkan soal ke pengawas di bagian depan ruangan. Diki sepertinya tidak paham soal keharusan mengikuti ujian tingkat SMP. Ia mengaku mengikuti ujian atas arahan orangtuanya. Lalu, apakah bocah itu mampu menjawab soal?
"Bisa," jawab Diki kepada PAKAR Selasa (5/5) kemarin.
Setahun lalu, Diki masih duduk di bangku kelas 4 SD. Namun Diki mengharumkan nama bangsa di kanca internasional dengan menjuarai lomba fisika di Hong Kong.
Kemudian, orangtuanya memindahkan bocah bertubuh tambun itu ke Singapura. Tujuannya, Diki dapat menyalurkan bakat putranya tersebut. "Saya ingin ketemu ahli fisika," ungkap Diki suatu waktu seperti yang dituturkan Hani, ibunda Diki.
"Saya mengikuti kehendak anak aja. Karena kalau dipaksakan, tidak baik," lanjut Hani.
Rencananya, Diki kembali mengikuti lomba fisika se-Asia pada Agustus 2015. Lokasi lombanya yaitu di Hong Kong. Hani mengatakan, anaknya memiliki IQ 189 saat usia 9 tahun. Diusia dua tahun, Diky sudah lancar membaca dan saat ini menguasai matematika dan fisika. "Umur 6 bulan sudah bisa bicara, meski cadel," katanya.
Dia menjelaskan, Diky lahir tanggal 1 Juli 2004. Saat usia 6 tahun Diky sempat masuk SD. Dari kelas I dia loncat langsung ke kelas 3 dan naik ke kelas 4. "SD hanya sampai kelas 4 saja, setelah itu saya pindahkan ke Singapura, untuk menyalurkan kecerdasanya, dan setelah kembali lagi ke Indonesia, dia langsung diterima di SMA Kesatuan kelas 1," katanya.
Diki kata Hanny, juga sempat mewakili Kota Bogor untuk mengikuti lomba Fisika tingkat Jawa Barat dan lomba fisika di Hongkong dan Agustus mendatang akan mengikuti olimpiade fisika Internasional. "Sekarang sedang mempersiapkan dia mengikuti olimpiade fisika tingkat Asia mewakili Indonesia," ujarnya.
Hanny menambahkan, anaknya mengikuti ujian paket B karena untuk mendapatkan syarat pendidikan, yaitu mendapatkan ijazah.
Sementara itu Diky, saat ditanya mengaku jika tidak menemukan kesulitan saat menjawab soal-soal ujan. "Enggak sulit, saya bisa jawab semuanya. Saya ikut ujian disuruh orang tua," kata Diky yang saat ujian menggunakan batik berwarna coklat.
Sedangkan, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Edgar Suratman mengatakan, ujian paket B dilakukan mulai pukul 13:30-16.30 WIB.
"Ujian paket B kali ini juga diikuti oleh peserta paling muda berusia 10 tahun atas nama Cendikiawan Suryaatmadja alias Diky dan peserta tertua bernama Herlina Suhandi," ujarnya saat ditemui di SDN Bondongan 2.
Edgar menjelaskan, ujian paket B di Kota Bogor diikuti oleh 668 orang siswa dari 27 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kota Bogor. Ujian dilaksanakan di dua lokasi yaitu di SDN Bondongan 2 dan SMAN 6 Kota Bogor.
Diky kata Edgar, saat duduk di kelas 10 SMA Kesatuan. "Dia juga sempat menjadi siswa sekolah dasar akan tetapi hanya sampai kelas empat. Kemudian berangkat ke Singapura, setelah kembali dia langsung diterima di kelas 1 SMA Kesatuan karena memang genius," katanya.

SMP Terbuka Laksanakan UN di SMPN 16
Hari kedua UN SMP untuk mata pelajaran Matematika digelar serempak seantero Indonesia tak terkecuali Bogor. Semua pelajar memulai pada pukul 07:30 WIB, dengan mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika. Berada di daerah Kayu manis, sekaligus sebagai perbatasan Kabupaten Bogor, para pelajar SMPN 16 melakoni UN dengan lancar.
Namun bukan hanya pelajar SMPN 16 saja yang menjalani ujian nasional di sini, tapi ada beberapa sekolah turut berinduk kepada mereka sehingga mengadakan UN bersama. Salah satunya adalah siswa dari SMP Terbuka. Karena SMP Terbuka adalah binaan, maka dari itu UN mereka berlangsung di gedung sekolah SMPN 16 dengan terbagi pada tiga ruang.
Tatang Mulyana, panitia pelaksana menuturkan, sebenarnya bukan hanya mereka, ada satu sekolah swasta lagi yang berinduk di sekolah. “Memang nama mereka SMP Terbuka, namun kegiatan belajarnya berada di lingkungan kita, sudah pasti Ujian Nasionalnya pun harus di wilayah SMPN 16,” ujarnya.
Kendati demikian kegiatan UN dua sekolah ini tidak sama sekali mengganggu pelajar dari SMPN 16 sendiri, karena semua persiapan telah matang, dan kesiapan pihak panitia sendiri dalam mengatur keberlangsungan jalannya UN.
“Alhamdulilah, sampai saat hari kedua ini tidak ada gangguan sama sekali,dan berharap hingga pelaksanaan UN terakhir seperti ini karena dapat memperbesar kemungkinan berhasilnya siswa dalam mengerjakan soal Ujian bila mana kondisi kondusif,” tambahnya.
Terpisah, inspeksi mendadak (sidak) masih dilakukan Wakil Walikota Bogor, Usmar Hariman untuk memantau kelancaran berlangsungnya Ujian Nasional (UN) di MTS Negeri Bogor di Panduraya Bantarjati, Selasa (5/5) kemarin.
Pemantauan yang dilakukan Usmar mulai pukul 07.30 WIB dan tak ada ditemukan kesulitan. Hal itu diakui oleh Wakil Walikota Bogor, Usmar Hariman kepada PAKAR. “Tadi saya sudah cek di MT Negeri Bogor. Dan semua siswa bisa mengikuti UN yang diselenggarakan sejak Senin (4/5) kemarin,” ujarnya.
Usmar menjelaskan, setelah dipertanyakan kepada para siswa memang tak ada kesulitan. Sejauh ini masih para siswa bisa mengikuti UN dengan soal-soal yang disediakan. “Kita masih gunakan sistem manual, dan Alhamdulillah mereka masih bisa menjawab pada hari ke dua penyelenggaraan UN. Belum ada kesulitan apapun,” tandasnya.
Dia berharap, para siswa ditingkat SMP itu bisa lulus hingga 100 persen karena persiapan sudah dilakukan sejak awal. “Persiapan jelang UN juga mereka ikuti, target kita insyallah semua siswa bisa lulus 100 persen dan lanjut ke jenjang berikutnya,” kata dia.
Selain itu, Komisi D DPRD Kota Bogor juga melakukan pemantauan di beberapa sekolah seperti YZA Ciawi. Hal itu dikatakan oleh Anggota Komisi D DPRD Kota Bogor, TB M. Alex Solihin menjelaskan, para siswa di YZA bisa mengikuti dan mengisi soal-soal UN. “Di Komisi D tetap melakukan sidak ke setiap sekolah saat UN. Tadi sekolah YZA para siswa mengikuti UN dengan tertib dan lancar. Sejauh ini belum ada kendala apapun yang kita temukan,” ungkapnya.
Alex menjelaskan, Komisi D juga memastikan para siswa ditingkat SMP bisa lulus hingga 100 persen dengan nilai yang memuaskan. “Sistem UN juga masih berjalan secara manual. Di tahun 2015 semua siswa ikut UN. Tidak ada yang sakit maupun izin dan menunda ujian tersebut. Mudah-mudahan para siswa di Kota Bogor bisa lulus hingga 100 persen,” tukasnya.=BAL/YUL/PAKAR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar