Minggu, 25 Oktober 2015

Hanya Bergantung dari Daun Singkong dan Katuk Ibu-ibu di Cinangka Mampu Beri Nafkah Tambahan bagi Keluarga



Ciampea - Meski hidup jauh dari berkecukupan, ditambah setiap hari harus menghadapi tingginya harga bahan pokok guna kebutuhan rumah tangga sehari hari, tetapi hal itu tidak menjadi penghalang bagi kesebelas orang ibu-ibu buruh penyortir sayuran daun Singkong dan Daun katuk di Kampung Babakan Nyamplung, RT 2/RW 5, Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea, yang setiap hari terlihat riang bercengkrama mulai pagi hingga sore hari bekerja sebagai buruh penyortir sayuran di gudang milik Sang tokeh bernama Ida dan Marsa.
Sayuran Daun Singkong dan Katuk yang selama 20 tahun membawa keberkahan bagi tambahan penghasilan sebagian ibu ibu rumah tangga yang tinggal di kampung itu, ironisnya selama 4 bulan lalu nyaris membuat mereka terhenyak hendak berteriak dan menangis lantaran menganggur, pasalnya, kedua komoditi sayuran yang selama 20 tahun menjadi primadona usaha warga itu, penyuplaiannya terhenti dari para petani, gara gara dilanda kekeringan.
“Dimana setiap gabungnya, saya mendapat upah Rp200 yang dibayar setiap tiga hari sekali, kadang sehari saya bisa menghasilkan 50 gabung, sehingga untuk tiga hari sekali, ya saya mengantungi upah Rp110 ribu, lumayan lah,” tutur Ibu Olih, salah seorang buruh penyortir sayuran daun Singkong dan daun Katuk, kepada PAJAR, Rabu (21/10).
Sementara, Ida sang Tokeh mengaku senang, bahwa usaha yang sudah digelutinya selama puluhan tahun itu, telah membawa keberkahan bagi ibu-ibu rumah tangga yang tinggal di kampungnya.=JEF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar